Palu, Pasca Gempa Bumi, Likuifaksi dan Tsunami
Palu, Ibukota Sulawesi Tengah menjadi perjalanan saya selanjutnya di bulan maret tahun 2019 ini. Kota yang baru saja dilanda oleh musibah hebat yakni Gempa Bumi, Tsunami dan bahkan fenomena Likuifaksi pada September 2018 lalu.

Membuat saya tertarik untuk melihat suasana terkini kota ini dan mengeksplorasi cerita  mereka.

Berangkat malam menggunakan pesawat transnusa dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu. Perjalanan udara ditempuh hanya sekitar 45 menit saja, pesawat yg saya gunakan begitu sepi mengangkat penumpang.

Saya tidak begitu terlalu berpikir untuk mengunjungi wisata-wisata alam yang terkenal indahnya di Palu sana. Pikiran saya hanya ingin menginjakkan salah satu kota yang dilalui garis khatulistiwa ini untuk mengulik kisah-kisah baru yang bisa jadi inspirasi saya.

Palu, adalah kota yang hampir saja menjadi kota saksi perjalanan pendidikan saya. Dulu, SMA saya sudah hampir untuk pindah melanjutkan sekolah disini.

Dari kaca jendela pesawat tampak kerlap kerlip cahaya dari kota Palu, menandakan bahwa kota ini tidak tidur dan saya berpikir akan mengeksplore Palu malam hari.

Malam Pertama di Palu

Sampai di Bandara saya langsung dijemput oleh kawan yang berasal dari komunitas regional Palu yang juga berelasi dengan komunitas saya di Balikpapan. Dulu, saya sudah pernah bertemu dengen beliau ketika komunitas kami mengikuti gathering nasional di Makassar, Sulawesi Selatan. Walau perjumpaan saat itu hanya saling sapa dan jabat tangan.

Kami bertemu seperti sudah lama saling kenal. Diantarkannya saya ke basecamp komunitas mereka yg letaknya tak jauh dari Pantai Talise, kawasan yang paling para terdampak Tsunami.

Basecamp sederhana, sambutan hangat membuat saya larut dalam suasana mereka yg sedang mempersiapkan barang-barang donasi untuk melakukan kegiatan berbagi kepada anak-anak yg kurang mampu dan anak-anak yg masih berada dalam pengungsian.

Malam itu baru saja saya simpan tas di kamar yg sudah disiapkan untuk tempat saya singgah selama 2 malam, saya langsung diajak untuk ke sebuah kedai kopi. Di sodorin lah saya sebuah hangatnya kopi napu khas Palu. Juga nikmatnya mie dampelas yang membuat malam saya menjadi hangat.

Sambil mencicipi nikmatnya kuliner kota Palu, saya berbincang-bincang tentang kedatangan saya ke Palu. Saya masih bingung kemana kaki saya akan melangkah, hingga akhirnya saya diajak oleh salah satu kawan yg juga baru saya kenal untuk ikut sebagai relawan dokumentasi di Kelas Inspirasi Palu yang cerita dan videonya udah saya share linknya di sini.

Akhirnya, saya ambillah tawaran itu. Saya ikut dalam kegiatan Kelas Inspirasi Palu di SD Negeri Tondo.

Sekolah ini juga terdampak dari Gempa Bumi, terlihat anak-anak sekolah bersemangat untuk belajar juga beberapa anak terlihat sangat nakal-nakal yah namanya juga anak-anak. Beberapa dari murid terlihat tidak menggunakan pakaian sekolah, maklum beberapa anak-anak disini ada yg kehilangan harta benda pasca bencana kemarin.

Usai menghabiskan waktu di Kelas Inspirasi, kami melakukan refleksi di sebuah pantai di Palu. Rasa ketakutan muncul, mungkin karna tidak terbiasa dengan pantai di sebuah kota yang baru saja dilanda Tsunami. Di agenda refleksi, saya bertemu dengan banyak kawan dari berbagai daerah. Ternyata bukan saya saja peserta dari luar pulau, ada yang berasal dari Jakarta.

Malam Ke Dua di kota Palu.

Sore hari saya habiskan untuk menikmati sebuah kopi di cafe yang berada di tengah kota tak jauh dari Lapangan Vatulemo balaikota Palu. Menggunakan gojek dari kedai kopi ke lapangan vatulemo, menikmati malam minggu pertama saya di Palu.

Di perjalanan menggunakan gojek, saya tentunya selalu mengajak cerita para driver yg saya tumpangi. Namun kebetulan kali ini saya bertemu dengan driver gojek yang tinggal di kawasan Petobo. Sebuah nama kelurahan yang terkena dampak fenomena Likuifaksi terbesar di Kota Palu.

Beliau selamat dari kejadian itu....

Singkat cerita driver gojek ke saya di sebuah perjalanan menuju lapangan, 

saya (driver gojek) sedang mandi tiba-tiba bunyi gemuruh dan bergetar ia melarikan diri hanya menggunakan pakaian dalam saja. Lalu saya lari menyelamatkan diri, tapi saya ingat orang tua saya ibu saya, kaki ibu saya terhimpit bangunan runtuh dan saya tolong ibu saya sambil berteriak kepada tetangga. lalu tak lama, bunyi gemuruh kembali dan kejauhan melihat sebuah gelombang datang sangat cepat tapi bukan air berupa tanah, rumah dan jalanan yang bergeser. Saya tidak mengerti fenomena itu, saya pun sangat kaget dan tak bisa berbuat apa-apa hanya teriakan minta tolong dan ucapan takbir yang bisa saya lontarkan dari mulut saya. Lalu ibu saya menyuruh saya untuk pergi dari sini dan menyelamatkan diri. Akhirnya saya tetap bersama ibu, ternyata tuhan masih memberikan keselamatan bagi kami.

Likuifaksi hampir menelan mereka namun, kerabat dekat rumah mereka hilang ditelan begitu saja. Malam itu panjang bagi saya dan ibu yang masih bertahan di reruntuhan, suasana gelap tak seterang malam kemarin. Saya berpikir ini sudah kiamat, akhirnya ibu saya berhasil keluar dari puing reruntuhan sekitar jam 9an malam setelah datang bantuan.

Tak lama, sampailah di Lapangan Vatulemo. Lapangan malam ini ramai seperti lapangan merdeka di Balikpapan.

Hari Terakhir di Palu

Singkat tapi berkesan, hari terakhir saya diajak untuk ikut ke acara Millenial Festival. Tapi, saya belum puas dengan cerita yang saya dapatkan tadi malam. Hari terakhir ini, saya ingin mengeksplore kawasan Pantai Talise yang merupakan kawasan paling terdampak Tsunami.

Pagi, tapi belum begitu terang. Saya nikmatin nasi kuning dan teh hangat setelah itu menyusuri jalanan kota Palu menuju Jembatan Kuning yang kini sudah putus. Pantai Talise merupakan pantai yang saat kejadian sedang mengadakan kegiatan festival palunomoni.

Di kawasan Pantai ini terlihat gersang, rumah-rumah dan bangunan hancur tak karuan. Pohon-pohon seperti habis diserang kekeringan. Meninggalkan berbagai kisah-kisah cerita. 

Saya lalui semua jalanan, saya hampiri juga perkampungan yang kini sudah rata. Barang-barang bekas korban masih terlihat berserakan disini mulai dari celana, sandal, boneka, tas bahkan sebuah buku doa juga terlihat diantara puing reruntuhan.

Masjid Apung Palu yang terlihat masih kokoh tapi sudah tidak berfungsi akibat pondasi runtuh di pantai ini. Saya menyusuri kawasan paling parah ini, dari kejauhan masjid mengumandangkan alunan lagu qasidah. Seolah saya sedang dalam perjalanan spiritual kali yah.

Sedikit cerita ketika saya mengunjungi kawasan pantai talise, saya bertemu dengan seorang ibu berjubah hitam dan berkerudung pink. beliau tampak melihat sebuah rumah yg sudah hancur ditelan ombak Tsunami. saya pun mendekat dan mengajak beliau ngomong. 

Bu, permisi

Iya nak

Rumahnya ibu?

Iya, kasian

Gimana keluarga sehat dan selamat semua?

Alhamdulillah

Gimana bu kemarin, pas kejadian lagi dimana?

Lagi dirumah, gempa pertama saya sudah lari meninggalkan rumah kemudian gempa lagi beserta ombak tsunami

Tetiba ibunya mengeluarkan air mata dan suara bergetar, tak sanggup saya mendengar ibunya bercerita tapi beliau terus bercerita tanpa berhenti sambil menunjuk semua daerah yg dia ingat.

Disini nak dulu jalanan kecil saya sama tetangga saya sering saling mengunjungi, sekarang sudah hancur.

sambil menyebut nama Tuhan dan sedikit mengeluarkan air mata.

Depan rumah saya ini ada rumah juga teman saya, pas saya kembali setelah kejadian saya liat ternyata sudah rata dan semua mayat banyak sekali nyangkut di dalam rumah saya yang masih berdiri ini.

Kemudian ibunya sulit untuk kembali berbicara

Akhirnya, saya akhiri cerita beliau agar tidak mengganggu tujuan beliau. Saya izin pamit beserta doa yang hanya saya berikan kepada beliau.


Berikut adalah foto-foto saya mengeksplore kota Palu










PETOBO DAN SISA KENANGAN











Dari perjalanan singkat saya di bulan maret ke palu ini banyak sekali kisah dan cerita didapatkan yg menjadi bekal saya untuk terus memperbaiki diri.

Terimakasih Palu, kawan-kawan kelas inspirasi dan kawan-kawan komunitas, walau masih dalam suasana duka tapi mereka masih senyum dan bersemangat.

Semoga ada waktu dan kesempatan lagi ke Palu, Sulawesi Tengah.
7 jam transit di Manado. Enaknya ngapain aja? motret di kawasan pecinan Manado seru kali yak.


Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Menjadi kota selanjutnya yang saya singgahi walau hanya sepintas waktu saja.

Setelah menjejaki Papua Barat dan Maluku Utara, saya pulang dengan memilih maskapai penerbangan yang transit dahulu di Manado. Sekalian, saya ingin melihat kota baru yang belum saya singgahi dalam perjalanan saya selama ini.

Seperti biasa, alarm pagi berlapis karna jam keberangakatan dari Bandara Ternate ke Manado. Maklum, trauma pernah ketinggalan pesawat pagi. Namun, kini saya bisa bangun lebih awal. Malah, saya berangkat ke bandara lebih pagi ah syukurlah.

Namun ternyata, kamera lumix saya tertinggal di kamar hotel ketika saya sudah sampai di Bandara ah siallll. Akhirnya saya kembali ke hotel dengan harapan kamera dalam kondisi aman. Untung saja saya ke bandara lebih pagi dan lokasi bandara tak jauh. Tapi ongkos ojek setidaknya menguras jatah minum kopi saya di Manado nanti haha.

Setelah tragedi pagi itu berakhir, akhirnya saya kembali ke bandara dengan selamat dan sesuai dengan waktunya. 

MANADO, PAGI BAE

Saatnya katakan sampai jumpa lagi Ternate dan pagi bae Manado. Suasana mendung menyambut pagi pertama saya di kota ini. 7 jam transit lumayan lama jika saya hanya melamun dan membatu di Bandara Sam Ratulangi. Niat pula ingin menghampiri saudara di Manado tapi ternyata beliau sedang berada di luar kota.

Akhirnya, saya memilih untuk hunting-hunting foto kawasan pecinan dan pertokoan tua di tengah kota Manado. Jaraknya lumayan jauh dari bandara, saya berangkat menuju kota dengan memesan Gocar yang terbilang lebih murah dibanding saya menggunakan taksi konvensional.

Berikut adalah foto-foto saya keliling kawasan pecinan dan pertokoan di Manado


kebetulan datang kesini saat mendekati perayaan Cap Go Meh. tampak masyarakat Tionghoa sedang mempersiapkan klenteng-klenteng mereka





Gimana? tartarik untuk mengitari kawasan pecinan di Manado? jika transit, jangan sampai kalian melewatkan moment-moment menarik di kota ini. 


Selamat mengeksplore Manado!

Ternate, menjejaki tanah kesultanan

Saya langkahi dulu lanjutan kisah cerita selama di Raja Ampat. Karna ada Ternate yang mesti diceritakan terlebih dahulu.

---------------------------

Pertama kali mendengar nama kota Ternate adalah ketika menonton sepak bola Persiter Ternate kala itu melawan tim kebanggaan kota saya Persiba Balikpapan waktu masih duduk di bangku SD.

Ternate merupakan ibukota provinsi Maluku Utara. Tidak pernah terpikirkan bisa menjejakkan kaki di tanah yang kaya akan rempah-rempahnya.

Setelah melakukan perjalanan panjang dari Surabaya ke Raja Ampat menggunakan kapal pelni KM. Ciremai. Saya memilih pulang ke Balikpapan, Kalimantan Timur melalui kota Ternate. Sayang jika tidak menyinggahi kota yang sudah berada di depan mata.

Kapal Pelni yang saya tumpangi adalah KM. Labobar dengan waktu tempuh dari Sorong, Papua Barat ke Ternate kurang lebih 20 jam saja. Sesampai di Pelabuhan Ternate, saya pamit kepada teman-teman pengabdian youcan empower yang telah menjadi bagian dari keluarga baru, waktu itu yang tersisa hanya enam orang saja sisa. Sisanya tim extend, memilih pulang menggunakan pesawat dan teman-teman yang tidak extend lainnya lagi sudah pulang duluan menggunakan kapal KM. Ciremai.

Ternate adalah kota yang sangat menarik bagi saya. Keramahan masyarakatnya membuat saya ingin cepat kembali ke kota tersebut. Di Ternate, jangan takut dengan begal, kriminalitas ataupun takut tersesat. Ternate aman dan nyaman bagi semuanya.

Di Ternate, kalian akan disuguhkan oleh pantai yang indah dengan latar belakang Gunung Gamalama yang berdiri kokoh di kota ini. Masyarakat yang sebagian besar berdagang dan bekerja di pemerintahan. Makanya, jangan heran di sepanjang kota ini banyak sekali bertemu dengan warga yang menggunakan seragam dinas.

Seberang pulau ini ada pulau Tidore yang juga masih kental akan budayanya. Tapi sayang, perjalanan kemarin saya tidak bisa menyempatkan diri ke tanah Tidore. Maklum, jadwal tiket pulang yang mepet ditambah dengan cuaca yang buruk sekitar perairan Ternate Tidore beberapa hari terakhir membuat saya mengurungkan niat untuk ke Tidore.

Untuk transportasi, di Ternate tidak ada aplikasi Gojek, Grab atau sejenisnya. Maklum kota Ternate terbilang mungil jadi tidak ada yang namanya jauh. Ojek konvensional terdapat di berbagai sudut tempat. Bahkan sangat mudah semudah aku ngomong sayang sama kamu aciappppp <

Berikut adalah tempat yang saya kunjungi ketika berada di Ternate;

1. Mengintip Benteng Peninggalan Belanda, Fort Oranje

Fort Oranje, merupakan benteng peninggalan zaman kolonial Belanda. Benteng ini merupakan pertahanan yang dibangun pada tahun 1607. Posisinya menghadap ke laut dengan latar belakang pemandangannya adalah Gunung Gamalama.

Ketika mengeksplore benteng ini, saya disambut dan ditemani oleh anak-anak Ternate. Mereka antusias mengantarkan saya keliling benteng, mungkin karna ia tertarik dengan kamera Lumix GX85 yang ada di leher saya ini. 







2. Menyusuri Jalanan Menuju Kedaton Kesultanan Ternate

Jaringan Internet Telkomsel di Ternate bagus banget, jadi jangan takut nantinya gak bisa akses google maps. Di Ternate saya menggunakan Google Maps untuk menuju ke spot yang ingin saya tuju, walau sesekali bertanya langsung kepada warga sekitar yang saya lewati.

Dari Fort Oranje ke Kedaton terbilang dekat, kurang lebih sekitar 1 kilometeran. Saya memutuskan berjalan kaki menyusuri jalanan sambil foto-foto situasi jalanan yang saya bilang ini sangat menarik dan gak bakal lelah selelah aku nungguin jawaban cinta dari kamu aciapppp <

Menyusuri jalanan dengan latar bangunan masjid megah di pinggir pantai di Ternate dan latar mengagumkan Gunung Gamalama yg diselimuti awan.
Perjalanan menyusuri jalan menuju Kedaton Kesultanan Ternate, melewati taman bacaan, masjid kesultanan, dan RRI (Radio Republik Indonesia) Ternate.
Hari itu sejuk, membuat saya tidak begitu kelelahan berjalan kaki menuju kedaton. Sesampai di Kedaton, saya mencoba masuk dan melihat ada aktivitas apa di dalamnya. Ternyata, tidak ada aktivitas yang begitu mencolok hanya terlihat sekelompok anak-anak yang sedang bermain sepak bola tepat di depan Museum Sultan Iskandar Muda.

Kamera yang saya bawa ternyata kembali membuat anak-anak di sekililing saya menginginkan mereka dibidik oleh kamera ini. Bahkan, beberapa anak kecil meminta akun instagram saya hahaha.


Kedaton Kesultanan Ternate menjadi tempat bermain anak-anak di Ternate

3. Pantai dan Pasar

Selanjutnya, tak pernah saya lupakan untuk selalu di eksplore adalah pasar. Pasar merupakan salah satu tempat yang selalu menarik untuk saya kunjungi. Akan banyak hal cerita dan berbagai macam orang akan saya temui. Pasar-pasar di Ternate berada di pesisir dan dekat dengan pantat-pantai sekitar. 

Pantai-pantai tengah kota Ternate terbilang keren-keren dan bersih. Bahkan di pantai tengah kota terdapat spot-spot diving yang menarik. 


Perjalanan singkat di Ternate cukup membuat saya rindu berkepanjangan. Semoga ada kesempatan untuk kembali ke tanah Ternate, Maluku Utara yang indah dan ramah ini. Semoga kalian terinspirasi untuk menjejaki kota yang kaya akan rempah-rempahnya.

Mari jejaki Ternate !!!
Senja di Lautan Papua Barat

Setelah satu bulan terlewati, akhirnya bisa menyempatkan untuk menulis cerita perjalanan ke Raja Ampat Januari lalu.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan panjang yang pernah saya lakukan. Untuk membuka tahun 2019 ini, saya menuju ke ujung timur Indonesia. Kali ini menggunakan kapal Pelni KM. Ciremai.

Berawal dari melihat pamflet kegiatan pengabdian youcan yang masuk ke email, sempat berpikir dua tiga kali untuk ikut. Maklum, waktu itu sepulang dari perjalanan ke Makassar dan budget sedang dalam masa krisisnya. Akhirnya saya tetap mencoba nekat untuk mendaftarkan diri.

Beberapa hari setelah melakukan pendaftaran, di sebuah cafe saya buka laptop dan email. Tiba-tiba masuklah email letter acceptance yang menandakan bahwa saya di terima untuk mengikuti kegiatan tersebut. 

Saya tidak pernah ngobrol dengan kawan dan keluarga tentang kegiatan perjalanan ini, karna saya tau ketika saya ngobrol tentang ini mungkin mereka menganggap itu adalah hal mustahil yang akan saya lakukan. Maklum, saya orang yang mager ketika diajak melakukan aktivitas sosial seperti ini. Jangankan ikut, mendengar kata pengabdian saja mungkin saya ditertawai oleh teman dan keluarga.

Akhirnya, bulan oktober hingga desember saya masuk dalam grup youcan sebagai fase pengenalan. Gak ada yang dikenal disini, bertatap muka pun belum pernah hingga harinya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang se-provinisi. Semuanya orang-orang hebat dengan niat yang baik.

Tahun Berganti …

Januari tiba, dimana bulan ini saya mempersiapkan diri segala halnya. Sebenarnya persiapannya sih ga banyak. 

Sempat beberapa kali mengalami pengunduran jadwal keberangkatan dari pihak pelni. Akhirnya tanggal 17 kami di pertemukan di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Bertemulah kawan-kawan se Tim yang terbentuk di grup whatsapp. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya.

Hari Pertama di Pelni

Saya rasa tidak asing dengan lingkungan kapal, mungkin karna saya baru saja pulang dari Toraja seminggu yang lalu menggunakan kapal dari Balikpapan. Tapi ternyata, tidak kepada pelni. Jauh lebih garang, sikut-sikutan antar penumpang sudah jadi hal yang biasa apalagi kalo sikut-sikutan dengan porter yang punya otot baja. Semua berlari kencang dari terminal pelabuhan demi mendapatkan tempat yang nyaman di atas dek sana.

Akhirnya, saya dan seluruh tim youcan yang terbagi menjadi tiga desa mendapat tempat di dek paling atas. Namun melantai, sungguh malam yang melelahkan. Saya akhiri malam ini dengan beristirahat.

Pagi esoknya jam 5 subuh, ternyata kapal baru mulai bergerak menjauhi dermaga yang seharusnya berangkat sedari pagi dinihari. Mungkin karna angkut muat kontainer yang membuat waktu keberangkatan menjadi ngulur. 

Pagi pertama, barulah saya dan kawan-kawan mulai mengakrabkan diri bersama teman-teman baru. Kami saling bertukar cerita, bertukar pengalaman, saling membicarakan mimpi masing-masing. Hal yang paling saya sukai ketika menceritakan kebudayaan daerah mereka masing-masing.

Sesekali saya juga mencari teman baru antar penumpang kapal, kebetulan kemarin juga bercerita dengan salah seorang penumpang yang kebetulan berasal dari Sulawesi yang mengadu nasib di ibukota. Menarik sekali berinteraksi di atas kapal.

Yah cukup membosankan di hari pertama, tidur, bangun, cerita, tidur lagi dan seterusnya. Begitulah siklus hidup di atas kapal.

Hari berganti malam, rapat antar tim dimulai. Mengatur strategi untuk berpindah tempat di esok hari, karna kapal akan transit di Kota Makassar. Otomatis sebagian penumpang akan turun di Makassar. Sedikit melonggarkan tempat disini. Tapi, bukan berarti bakal sepi, masih ada penumpang dari Makassar tujuan Bau-bau yang akan siap merebut tempat-tempat terbaik di atas sini.

Hari Kedua di Makassar

Pukul 11.00 siang tibalah di Makassar, tidak asing dengan kota ini. Namun sayang, hanya sejam kapal ini transit, padahal saya sudah merencanakan untuk melepas rindu menikmati coto Makassar yang berada di jalan gagak. Jadi saya coba saja coto Makassar nusantara di depan pelabuhan. Rasanya memang tidak begitu beda dengan coto gagak disana. Coto Makassar sudah jadi menu wajib ketika saya berkunjung ke Makassar.

Perjalanan dari Makassar dilanjutkan ke Bau-bau. Kembalilah saya ke kapal ke tempat baru yang lebih nyaman sebelumnya. Disinilah kami mulai saling berbaur saling mengenal sesama anggota di tim tiga. 

Hari Ketiga di Bau-bau

Perjalanan dari Makassar menuju Bau-bau ternyata tidak begitu selama dari Surabaya ke Makassar. Berangkat jam 1 siang dan tiba di Bau-bau sekitar jam 4 subuh. Menyempatkan diri ke Bau-bau untuk turun melihat kondisi kota yang berada Sulawesi Tenggara ini. Beruntung, saya disambut oleh salah satu teman dari Bau-bau yang merupakan anggota komunitas dari regional Bau-bau. Menyenangkan sekali berjejaring seperti ini, setiap daerah selalu saja disambut dengan teman-teman baru.

Hanya 15 menit di darat lalu kembali ke kapal. Perjalanan dari Bau-bau kembali dilanjutkan, selanjutnya perjalanan panjang menuju ke Sorong, Papua Barat. Untuk membunuh kebosanan saya memilih untuk menonton film, bermain kartu, bercerita basa basi. Dan beruntung sekali Pelni mengajak saya dan kawan-kawan mengunjungi anjungan kapal.

Hari terakhir di Pelni, menikmati sunset di lautan Papua barat. Wow, keren sekali pulau-pulau papua ini. Dulu saya hanya melihat di televisi dan di postingan-postingan sosial media. Sekarang, pulau-pulau itu berada tepat di depan mata saya. Langit sore memanjakan mata saya. Dalam hati berbicara, Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Papua.

Anjungan Kapal KM. Ciremai

Senja di Lautan Papua Barat

Langit mulai menggelap, akhirnya tibalah di Sorong. Kota pertama yang jadi pijakan kaki saya untuk melangkah lebih jauh melihat keindahan dan kekayaan Papua Barat.

Dari pelabuhan kami menuju ke Pelabuhan Rakyat untuk meneruskan perjalanan ke Kepulauan Raja Ampat. Kami tidur di kapal express yang panas sekali, karna panas saya memilih menghabiskan malam diatas kapal dengan angin laut yang menusuk badan.

Membunuh Malam di Pelabuhan Rakyat

Perjalanan di lanjutkan esok pagi ….



Bersambung di Part II ……..


Palu, menjadi pilihan kota selanjutnya yang saya kunjungi di bulan maret.

Kalo bisa dibilang, ini adalah perjalanan yang dadakan direncanakan. Sesampai di kota Palu, Sulawesi Tengah jumat malam (8/3/19). Saya langsung diajak oleh kawan yang baru juga saya kenal di Palu dari jaringan komunitas regional yang saya ikuti. Diajaknya saya ke sebuah warung kopi untuk menyicipi kopi napu khas Palu. Ditambah dengan hangatnya kuliner mie dampelas yang bikin badan makin hangat.

Sambil menyantap kuliner dan kopi napu, saya memikirkan kemana tempat yang akan saya tuju di kota ini. Kebetulan kawan sedang bercerita, bahwa besok pagi dia akan melakukan kegiatan Kelas Inspirasi Palu. Salah satu tim KI Palu membutuhkan teman-teman relawan dokumentasi di beberapa sekolah.

Akhirnya, saya ikut dengan mereka walaupun tanpa persiapan yang matang. Yah itung-itung buat mengisi waktu pagi esok dengan bertemu pemuda pemudi di Palu yang punya semangat besar dalam memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak-anak di Palu.

Saya kebagian di SD Negeri Tondo, tidak jauh dari tempat saya menginap yah sekitar 20 menit lah dengan kendaraan motor yang dipinjamkan.

Pukul 06.45 WITA, berangkat lah saya. Keluar dari tempat penginapan yang sederhana saya langsung takjub melihat pemandangan indah di pagi hari di kota Palu. Kota yang dilintasi garis khatulistiwa ini ternyata dikelilingi oleh pegunungan. Maklum, tadi malam tidak dapat melihat keindahan palu dari atas langit karna gelap. Yang terlihat hanyalah cahaya lampu yang menerangi kota.

Menuju SDN Tondo dengan melewati jalan poros di pesisir pantai, tampak pemandangan bangunan yang berjejer dengan bekas reruntuhan di sepanjang perjalanan. Jalanan yang terlihat bekas patahan-patahan gempa. Juga sesekali melintas di kawasan hunian sementara rakyat yang berupa tenda masih berdiri di kawasan pesisir. Dalam hati berpikir bagaimana rasanya tinggal di dalam tenda tersebut dalam kondisi yang sempit dan panas.

Sampai juga di SDN Tondo dan saya pun langsung mendokumentasikan kegiatan teman-teman Kelas Inspirasi Palu.

Silahkan dinikmati video dokumentasi yang saya buat


#PaluBangkit
#PaluKuat
Baluran dan Ijen - Januari 2019

Setelah berpetualang ke Negeri Atas di Sulawesi Selatan yaitu Toraja di akhir tahun 2018. Kali ini membuka awal tahun 2019 dengan melakukan perjalanan ke Jawa Timur tepatnya Banyuwangi.

Dari Balikpapan menggunakan pesawat ke Surabaya, lalu menginap semalam disalah satu hostel di seberang Stasiun Gubeng. Dari Surabaya berangkat pake kereta probowangi jam 4.25 pagi sampai banyuwangi jam 11an siang sekitar 56ribu.

Ternyata cuaca di Banyuwangi sangat panas dan terik. Saya kira bakal adem.

Sesampai di Stasiun Karangasem yang berada di Banyuwangi, langsung saja menuju ke penyewaan sepeda motor yang berada di seberang stasiun. Sewanya lumayan murahlah sekitar 75ribu perhari.

Niat sebenarnya ingin istirahat dulu, tapi karena biasanya kalo udah tidur susah bangunnya. Dan Takut menghabiskan siang hari dengan sia-sia selama di Banyuwangi, akhirnya berangkatlah saya ke Baluran.

Lokasinya lumayan jauh dari Stasiun Karangasem, mungkin ada kurang lebih sejam perjalanan. Jalananannya mulus tapi agak berhati-hati karena banyak kendaraan-kendaraan truk besar melintasi jalan.

Kesan pertama dengan Baluran, asiklah ya buat yang ingin berselfie atau foto-foto instagenic.

Foto-foto di Baluran

Sepanjang jalan menuju Taman Nasional Baluran dari gerbang.





Pantai di ujung Baluran.
Agak berhati-hati ketika melintasi jalanan sepanjang Baluran, karena masih banyaknya satwa yang sering melintas. Seperti monyet-monyet yang lucu tapi agak menyebalkan. Monyet-monyet di Baluran sedikit bringas haha. Seringkali merampas dan mengambil barang-barang wisatawan, jadi jangan biarkan barang-barang ditinggal di motor.


LANJUT KE IJEN

Setelah puas melihat Baluran selanjutnya balik ke penginapan untuk beristirahat karena malam harinya akan naik Ijen. Maklum semenjak lulus SMA udah jarang banget olahraga itupun kalo olahraga paling cuma naik sepedaan doang sekitar rumah.

Baru inget saya melupakan jaket dan sarung tangan di Balikpapan, ini yg penting sih karena saya paling susah bertahan hidup dengan suasana yang dingin. Maklum kulit dan daging udah terbiasa dengan iklim panas di Balikpapan. Mau ndak mau beli jaket baru di pasar malam cuma 60rban.

Jam 10an malam berangkatlah menuju Ijen. Lumayan jauh tapi tidak sejauh ke Baluran dari penginapan. Tapi hati-hati, karena jalanan menuju Ijen sangat gelap.

Sampai di pos pertama jalan masuk. Kalo kalian takut gelap dan takut hantu, sebaiknya jangan pergi sendirian cobalah menunggu teman-temann pendaki lainnya agar bisa berbarengan. Dan jangan lupa juga nih buat bawa uang cash, pengalaman kemarin lupa bawa uang cash. Yah masih adalah beberapa cukup buat bayar tiket masuk dan tiket mendaki saja

Akhirnya ga punya duit buat sewa masker. Masker salah satu yang wajib banget buat dipake. Ini seriusan bukan main-main, tar dibawah saya jelaskan ceritanya.

Sekitar 10km melintasi jalan yang gelap gulita dan tanjakan, diselimuti dinginnya Ijen yg bikin badan begeteran akhirnya sampailah di Pos Paltuding. Pos start pendakian dibuka mulai kalo ga salah sekitar jam 1, ada banyak banget pendaki yang siap mengejar waktu untuk melihat fenomena blue fire termasuk saya.

Saya rasa pendakiannya gak begitu susah dan tidak bikin capek. Yang penting coba aja jogging-jogging kecil seminggu sebelum naiklah. Serunya mendaki Ijen ini rame banget pendakinya jadi bisa ketemu orang-orang baru dan bahkan bisa mendaki bersama warga lokal yang tiap harinya naik turun ke kawah nutuk menambang belerang.

Kadang ada beberapa pendaki yang mendaki sambil mendengarkan lagu dari hp nya. Dengan ragam lagu mulai dari lagu-lagu indie sampe lagu qasidah.

Sekitar jam setengah 3 sampailah diatas Ijen, disinilah keinginan saya untuk melihat fenomena begitu besar. Saya rasa wajib bagi para pendaki untuk menggunakan masker. Tapi ada beberapa yang juga nekat tidak menggunakan termasuk saya karena gak ada duit buat nyewa haha.

Sekitar setengah jam turun dan blue fire tersaksikan oleh mata. Akhirnya mimpi dari 2017 terwujud juga. Begitu lama saya dibawah untuk mengambil gambar dan berinteraksi dengan petambang belerang. Tidak lama itu semakin padat pendaki dan saya bergegas ke atas karena asap belerang sudah mulai menutup jalan naik turun ke kawah.



Nah disinilah baru tau gimana rasanya menghirup udara belerang. Bukan baunya sih yang bikin sakit adalah ketika aroma belerang masuk ke tenggorakan dan bikin batuk-batuk. Para warga lokal memberikan sedikit treatment kepada saya ketika hal itu terjadi, usahakan untuk mencari air. Lalu basahkan ke kain dan hirup melalui mulut. Lalu tips terakhir dari warga lokal ke saya, jangan mengulangi hal sepele ini lagi haha.

Sempat terhenti di tangga naik karena gak sanggup menghirup belerang. Akhirnya tiba saya di puncak Ijen untuk beristirahat dan menikmati sunrise yang menakjubkan dan cuma saya dapatkan di Ijen. Terima kasih Ijen, besok-besok saya kembali :D

Foto-foto di perjalanan turun kembali menggunakan kamera smartphone

Foto diambil menggunakan kamera smartphone

foto diambil menggunakan Kamera smartphone

Toraja, alam dan budaya yang mempesona
Toraja, siapa sih yang tidak mengenal kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan ini? Alamnya yang indah dan asri ternyata masih menyimpan warisan tradisi budaya dari leluhurnya. Mulai dari ritual upacara kematian, situs pemakaman, dan masih banyak lainnya.Jadi masih ragu buat memasukkan Toraja di list travelling kalian tahun ini? Nah, berikut adalah 7 destinasi yang mesti kamu singgahi ketika ke toraja. Jadi, jangan bingung dulu yah


1. Londa

Londa, adalah situs pekuburan batu di Toraja. Disinilah kita bisa melihat tradisi pekuburan batu para leluhur dan keturunannya. Terdapat tulang belulang dan tengkorak yang disimpan di sebuah peti. Serta juga patung tau-tau yang disimpan di pinggir batu-batu dinding.Kalian juga bisa loh menyusuri goa di Londa, tapi kamu harus menyewa lampu yang disediakan disana kalau tidak mau gelap-gelapan. Tenang, disana ada guide lokal yang siap menemani kamu menyusuri goa ini. Di dalam goa terdapat juga tulang belulang, kuburan dengan sejarahnya masing-masing.
Foto Londa
View Londa dari gerbang masuk
Patung Tau-tau. Menandakan bahwa siapa-siapa yang dimakamkan di Londa dan juga menandakan bahwa mendiang memiliki kasta yang tinggi
Guide lokal yang ternyata pernah lama tinggal di Balikpapan. Tarif guide sukarela, sewa lampu 50rb. 
Tengkorak di goa yang terdapat di Londa

2. Kampung Lolai, Negeri di Atas Awan

Jangan lupa juga ke Kampung Lolai. Disini kamu bisa melihat hamparan persawahan hingga rumah-rumah tongkonan milik warga.Biasanya wisatawan memenuhi Lolai ini di pagi hari karna Kampung Lolai ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Dan jika beruntung kalian juga bisa menyaksikan awan yang menggumpal menutup pemandangan kota. Itulah yang membuat kampung lolai ini dikenal dengan nama Negeri di Atas Awan.

Foto Lolai
Menyaksikan sunrise di Lolai. Sayang waktu kesini tidal seberuntung dengan netizen-netizen lainnya. Biasanya pagi hari, awan menggumpal di Lolai

Ternyata di balik Lolai, menyimpan pemandangan sawah yang bikin mata meleleh
3. Nikmatin Alam yang Indah dan Masih Asri di Batutumonga
Selain Lolai ada juga Batutumonga, disini kamu juga bisa menikmati alam yang sangat indah dan bikin hati makin tenang. Sebuah desa yang berada di Toraja Utara ini juga tidak kalah dengan Lolai. Bedanya, Batutumonga tidak seramai dengan Lolai. Selama perjalanan kalian juga melewati beberapa objek wisata seperti Pana, dll.


Foto Batutumonga

Sunrise di Batutumonga
Nyaksiin view gini tiap pagi bikin pikiran plong 
Warlok (Warga Lokal)

4. Mengintip Batu Menhir di Kalimbuang Bori
Ternyata ada warisan megalitikum yang masih terjaga, yap Kalimbuang Bori. Bebatuan yang unik dan tinggi ini tersusun sangat rapi. Selain itu juga terdapat batu-batu lainnya yang berukuran besar juga sebagai tempat makam masyarakat toraja. Di Belakang kawasan objek wisata kalimbuang bori juga terdapat baby grave dan tongkonan unik.

Foto Kalimbuang Bori

Kalimbuang Bori


5. Kete Kesu
Siapa yang tidak mengenal Kete Kesu, salah satu objek wisata yang sudah gak asing lagi oleh wisatawan yang berkunjung ke Toraja. Disini terdapat rumah tongkonan yang berjejer dengan rapi. Serta kuburan yang menyimpan banyak tulang-belulang para leluhur. Disana juga tersimpan patung tau-tau. Di Kete kesu kalian juga bisa belanja oleh-oleh khas Toraja mulai dari kain ikat kepala, gelang, kalung, miniatur patung tau-tau bahkan juga mencicipi kopi Toraja.


Desa Adat Kete Kesu


6. Buntu Burake
Ini bukan di Brazil, tapi Patung Yesus ini ada di Toraja. Yap, di Toraja kamu juga bisa melihat patung tersebut tepatnya di Bukit Buntu Burake, Tana Toraja. Patung Yesus ini salah satu objek wisata yang juga jadi andalan para turis. Disini kamu bisa melihat pemandangan Makale dari ketinggian. 
Nah, kalo kamu juga berani bisa tuh nyobain berdiri di atas lantai kaca di Buntu Burake.


Foto Buntu Burake
Patung Yesus Buntu Burake
Perbukitan di Buntu Burake

7. Tilanga
Tilanga Pool, kolam yang satu ini juga bisa jadi destinasi liburan kamu di Toraja. Kalian bisa juga melihat belut purba yang berukuran besar di Tilanga Pool. Caranya kamu bisa membayar pawangnya yang merupakan anak-anak kecil disana dengan memberi tip dan membeli telur. Di belakang kolam tilanga terdapat gua yang konon memiliki cerita legenda tentang anak dan ibu yang terjatuh terkena batu. Tilanga masih digunakan sebagai tempat ritual oleh masyarakat Toraja.Gimana, sudah tahu destinasi mana yang bakal kamu tuju ketika di Toraja? Tentunya masih banyak lagi destinasi yang bisa kamu datangin ke Toraja.


Tilanga, terdapat belut purba disini. Konon masih digunakan sebagai tempat para masyarakat melakukan ritual

Nah, Bagaimana? masih ragu buat jelajahi Toraja?

Jangan lupa tetap jaga sopan santun kalian ketika mengunjungi wisata alam dan budaya yang ada di Toraja yaaa. Selamat berlibur dan selamat menikmati Toraja.

Buat persiapan sebelum ke Toraja bisa dibaca di artikel yang saya ulas sebelumnya, klik disini