Senja di Lautan Papua Barat

Setelah satu bulan terlewati, akhirnya bisa menyempatkan untuk menulis cerita perjalanan ke Raja Ampat Januari lalu.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan panjang yang pernah saya lakukan. Untuk membuka tahun 2019 ini, saya menuju ke ujung timur Indonesia. Kali ini menggunakan kapal Pelni KM. Ciremai.

Berawal dari melihat pamflet kegiatan pengabdian youcan yang masuk ke email, sempat berpikir dua tiga kali untuk ikut. Maklum, waktu itu sepulang dari perjalanan ke Makassar dan budget sedang dalam masa krisisnya. Akhirnya saya tetap mencoba nekat untuk mendaftarkan diri.

Beberapa hari setelah melakukan pendaftaran, di sebuah cafe saya buka laptop dan email. Tiba-tiba masuklah email letter acceptance yang menandakan bahwa saya di terima untuk mengikuti kegiatan tersebut. 

Saya tidak pernah ngobrol dengan kawan dan keluarga tentang kegiatan perjalanan ini, karna saya tau ketika saya ngobrol tentang ini mungkin mereka menganggap itu adalah hal mustahil yang akan saya lakukan. Maklum, saya orang yang mager ketika diajak melakukan aktivitas sosial seperti ini. Jangankan ikut, mendengar kata pengabdian saja mungkin saya ditertawai oleh teman dan keluarga.

Akhirnya, bulan oktober hingga desember saya masuk dalam grup youcan sebagai fase pengenalan. Gak ada yang dikenal disini, bertatap muka pun belum pernah hingga harinya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang se-provinisi. Semuanya orang-orang hebat dengan niat yang baik.

Tahun Berganti …

Januari tiba, dimana bulan ini saya mempersiapkan diri segala halnya. Sebenarnya persiapannya sih ga banyak. 

Sempat beberapa kali mengalami pengunduran jadwal keberangkatan dari pihak pelni. Akhirnya tanggal 17 kami di pertemukan di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Bertemulah kawan-kawan se Tim yang terbentuk di grup whatsapp. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya.

Hari Pertama di Pelni

Saya rasa tidak asing dengan lingkungan kapal, mungkin karna saya baru saja pulang dari Toraja seminggu yang lalu menggunakan kapal dari Balikpapan. Tapi ternyata, tidak kepada pelni. Jauh lebih garang, sikut-sikutan antar penumpang sudah jadi hal yang biasa apalagi kalo sikut-sikutan dengan porter yang punya otot baja. Semua berlari kencang dari terminal pelabuhan demi mendapatkan tempat yang nyaman di atas dek sana.

Akhirnya, saya dan seluruh tim youcan yang terbagi menjadi tiga desa mendapat tempat di dek paling atas. Namun melantai, sungguh malam yang melelahkan. Saya akhiri malam ini dengan beristirahat.

Pagi esoknya jam 5 subuh, ternyata kapal baru mulai bergerak menjauhi dermaga yang seharusnya berangkat sedari pagi dinihari. Mungkin karna angkut muat kontainer yang membuat waktu keberangkatan menjadi ngulur. 

Pagi pertama, barulah saya dan kawan-kawan mulai mengakrabkan diri bersama teman-teman baru. Kami saling bertukar cerita, bertukar pengalaman, saling membicarakan mimpi masing-masing. Hal yang paling saya sukai ketika menceritakan kebudayaan daerah mereka masing-masing.

Sesekali saya juga mencari teman baru antar penumpang kapal, kebetulan kemarin juga bercerita dengan salah seorang penumpang yang kebetulan berasal dari Sulawesi yang mengadu nasib di ibukota. Menarik sekali berinteraksi di atas kapal.

Yah cukup membosankan di hari pertama, tidur, bangun, cerita, tidur lagi dan seterusnya. Begitulah siklus hidup di atas kapal.

Hari berganti malam, rapat antar tim dimulai. Mengatur strategi untuk berpindah tempat di esok hari, karna kapal akan transit di Kota Makassar. Otomatis sebagian penumpang akan turun di Makassar. Sedikit melonggarkan tempat disini. Tapi, bukan berarti bakal sepi, masih ada penumpang dari Makassar tujuan Bau-bau yang akan siap merebut tempat-tempat terbaik di atas sini.

Hari Kedua di Makassar

Pukul 11.00 siang tibalah di Makassar, tidak asing dengan kota ini. Namun sayang, hanya sejam kapal ini transit, padahal saya sudah merencanakan untuk melepas rindu menikmati coto Makassar yang berada di jalan gagak. Jadi saya coba saja coto Makassar nusantara di depan pelabuhan. Rasanya memang tidak begitu beda dengan coto gagak disana. Coto Makassar sudah jadi menu wajib ketika saya berkunjung ke Makassar.

Perjalanan dari Makassar dilanjutkan ke Bau-bau. Kembalilah saya ke kapal ke tempat baru yang lebih nyaman sebelumnya. Disinilah kami mulai saling berbaur saling mengenal sesama anggota di tim tiga. 

Hari Ketiga di Bau-bau

Perjalanan dari Makassar menuju Bau-bau ternyata tidak begitu selama dari Surabaya ke Makassar. Berangkat jam 1 siang dan tiba di Bau-bau sekitar jam 4 subuh. Menyempatkan diri ke Bau-bau untuk turun melihat kondisi kota yang berada Sulawesi Tenggara ini. Beruntung, saya disambut oleh salah satu teman dari Bau-bau yang merupakan anggota komunitas dari regional Bau-bau. Menyenangkan sekali berjejaring seperti ini, setiap daerah selalu saja disambut dengan teman-teman baru.

Hanya 15 menit di darat lalu kembali ke kapal. Perjalanan dari Bau-bau kembali dilanjutkan, selanjutnya perjalanan panjang menuju ke Sorong, Papua Barat. Untuk membunuh kebosanan saya memilih untuk menonton film, bermain kartu, bercerita basa basi. Dan beruntung sekali Pelni mengajak saya dan kawan-kawan mengunjungi anjungan kapal.

Hari terakhir di Pelni, menikmati sunset di lautan Papua barat. Wow, keren sekali pulau-pulau papua ini. Dulu saya hanya melihat di televisi dan di postingan-postingan sosial media. Sekarang, pulau-pulau itu berada tepat di depan mata saya. Langit sore memanjakan mata saya. Dalam hati berbicara, Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Papua.

Anjungan Kapal KM. Ciremai

Senja di Lautan Papua Barat

Langit mulai menggelap, akhirnya tibalah di Sorong. Kota pertama yang jadi pijakan kaki saya untuk melangkah lebih jauh melihat keindahan dan kekayaan Papua Barat.

Dari pelabuhan kami menuju ke Pelabuhan Rakyat untuk meneruskan perjalanan ke Kepulauan Raja Ampat. Kami tidur di kapal express yang panas sekali, karna panas saya memilih menghabiskan malam diatas kapal dengan angin laut yang menusuk badan.

Membunuh Malam di Pelabuhan Rakyat

Perjalanan di lanjutkan esok pagi ….



Bersambung di Part II ……..


Palu, menjadi pilihan kota selanjutnya yang saya kunjungi di bulan maret.

Kalo bisa dibilang, ini adalah perjalanan yang dadakan direncanakan. Sesampai di kota Palu, Sulawesi Tengah jumat malam (8/3/19). Saya langsung diajak oleh kawan yang baru juga saya kenal di Palu dari jaringan komunitas regional yang saya ikuti. Diajaknya saya ke sebuah warung kopi untuk menyicipi kopi napu khas Palu. Ditambah dengan hangatnya kuliner mie dampelas yang bikin badan makin hangat.

Sambil menyantap kuliner dan kopi napu, saya memikirkan kemana tempat yang akan saya tuju di kota ini. Kebetulan kawan sedang bercerita, bahwa besok pagi dia akan melakukan kegiatan Kelas Inspirasi Palu. Salah satu tim KI Palu membutuhkan teman-teman relawan dokumentasi di beberapa sekolah.

Akhirnya, saya ikut dengan mereka walaupun tanpa persiapan yang matang. Yah itung-itung buat mengisi waktu pagi esok dengan bertemu pemuda pemudi di Palu yang punya semangat besar dalam memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak-anak di Palu.

Saya kebagian di SD Negeri Tondo, tidak jauh dari tempat saya menginap yah sekitar 20 menit lah dengan kendaraan motor yang dipinjamkan.

Pukul 06.45 WITA, berangkat lah saya. Keluar dari tempat penginapan yang sederhana saya langsung takjub melihat pemandangan indah di pagi hari di kota Palu. Kota yang dilintasi garis khatulistiwa ini ternyata dikelilingi oleh pegunungan. Maklum, tadi malam tidak dapat melihat keindahan palu dari atas langit karna gelap. Yang terlihat hanyalah cahaya lampu yang menerangi kota.

Menuju SDN Tondo dengan melewati jalan poros di pesisir pantai, tampak pemandangan bangunan yang berjejer dengan bekas reruntuhan di sepanjang perjalanan. Jalanan yang terlihat bekas patahan-patahan gempa. Juga sesekali melintas di kawasan hunian sementara rakyat yang berupa tenda masih berdiri di kawasan pesisir. Dalam hati berpikir bagaimana rasanya tinggal di dalam tenda tersebut dalam kondisi yang sempit dan panas.

Sampai juga di SDN Tondo dan saya pun langsung mendokumentasikan kegiatan teman-teman Kelas Inspirasi Palu.

Silahkan dinikmati video dokumentasi yang saya buat


#PaluBangkit
#PaluKuat
Baluran dan Ijen - Januari 2019

Setelah berpetualang ke Negeri Atas di Sulawesi Selatan yaitu Toraja di akhir tahun 2018. Kali ini membuka awal tahun 2019 dengan melakukan perjalanan ke Jawa Timur tepatnya Banyuwangi.

Dari Balikpapan menggunakan pesawat ke Surabaya, lalu menginap semalam disalah satu hostel di seberang Stasiun Gubeng. Dari Surabaya berangkat pake kereta probowangi jam 4.25 pagi sampai banyuwangi jam 11an siang sekitar 56ribu.

Ternyata cuaca di Banyuwangi sangat panas dan terik. Saya kira bakal adem.

Sesampai di Stasiun Karangasem yang berada di Banyuwangi, langsung saja menuju ke penyewaan sepeda motor yang berada di seberang stasiun. Sewanya lumayan murahlah sekitar 75ribu perhari.

Niat sebenarnya ingin istirahat dulu, tapi karena biasanya kalo udah tidur susah bangunnya. Dan Takut menghabiskan siang hari dengan sia-sia selama di Banyuwangi, akhirnya berangkatlah saya ke Baluran.

Lokasinya lumayan jauh dari Stasiun Karangasem, mungkin ada kurang lebih sejam perjalanan. Jalananannya mulus tapi agak berhati-hati karena banyak kendaraan-kendaraan truk besar melintasi jalan.

Kesan pertama dengan Baluran, asiklah ya buat yang ingin berselfie atau foto-foto instagenic.

Foto-foto di Baluran

Sepanjang jalan menuju Taman Nasional Baluran dari gerbang.





Pantai di ujung Baluran.
Agak berhati-hati ketika melintasi jalanan sepanjang Baluran, karena masih banyaknya satwa yang sering melintas. Seperti monyet-monyet yang lucu tapi agak menyebalkan. Monyet-monyet di Baluran sedikit bringas haha. Seringkali merampas dan mengambil barang-barang wisatawan, jadi jangan biarkan barang-barang ditinggal di motor.


LANJUT KE IJEN

Setelah puas melihat Baluran selanjutnya balik ke penginapan untuk beristirahat karena malam harinya akan naik Ijen. Maklum semenjak lulus SMA udah jarang banget olahraga itupun kalo olahraga paling cuma naik sepedaan doang sekitar rumah.

Baru inget saya melupakan jaket dan sarung tangan di Balikpapan, ini yg penting sih karena saya paling susah bertahan hidup dengan suasana yang dingin. Maklum kulit dan daging udah terbiasa dengan iklim panas di Balikpapan. Mau ndak mau beli jaket baru di pasar malam cuma 60rban.

Jam 10an malam berangkatlah menuju Ijen. Lumayan jauh tapi tidak sejauh ke Baluran dari penginapan. Tapi hati-hati, karena jalanan menuju Ijen sangat gelap.

Sampai di pos pertama jalan masuk. Kalo kalian takut gelap dan takut hantu, sebaiknya jangan pergi sendirian cobalah menunggu teman-temann pendaki lainnya agar bisa berbarengan. Dan jangan lupa juga nih buat bawa uang cash, pengalaman kemarin lupa bawa uang cash. Yah masih adalah beberapa cukup buat bayar tiket masuk dan tiket mendaki saja

Akhirnya ga punya duit buat sewa masker. Masker salah satu yang wajib banget buat dipake. Ini seriusan bukan main-main, tar dibawah saya jelaskan ceritanya.

Sekitar 10km melintasi jalan yang gelap gulita dan tanjakan, diselimuti dinginnya Ijen yg bikin badan begeteran akhirnya sampailah di Pos Paltuding. Pos start pendakian dibuka mulai kalo ga salah sekitar jam 1, ada banyak banget pendaki yang siap mengejar waktu untuk melihat fenomena blue fire termasuk saya.

Saya rasa pendakiannya gak begitu susah dan tidak bikin capek. Yang penting coba aja jogging-jogging kecil seminggu sebelum naiklah. Serunya mendaki Ijen ini rame banget pendakinya jadi bisa ketemu orang-orang baru dan bahkan bisa mendaki bersama warga lokal yang tiap harinya naik turun ke kawah nutuk menambang belerang.

Kadang ada beberapa pendaki yang mendaki sambil mendengarkan lagu dari hp nya. Dengan ragam lagu mulai dari lagu-lagu indie sampe lagu qasidah.

Sekitar jam setengah 3 sampailah diatas Ijen, disinilah keinginan saya untuk melihat fenomena begitu besar. Saya rasa wajib bagi para pendaki untuk menggunakan masker. Tapi ada beberapa yang juga nekat tidak menggunakan termasuk saya karena gak ada duit buat nyewa haha.

Sekitar setengah jam turun dan blue fire tersaksikan oleh mata. Akhirnya mimpi dari 2017 terwujud juga. Begitu lama saya dibawah untuk mengambil gambar dan berinteraksi dengan petambang belerang. Tidak lama itu semakin padat pendaki dan saya bergegas ke atas karena asap belerang sudah mulai menutup jalan naik turun ke kawah.



Nah disinilah baru tau gimana rasanya menghirup udara belerang. Bukan baunya sih yang bikin sakit adalah ketika aroma belerang masuk ke tenggorakan dan bikin batuk-batuk. Para warga lokal memberikan sedikit treatment kepada saya ketika hal itu terjadi, usahakan untuk mencari air. Lalu basahkan ke kain dan hirup melalui mulut. Lalu tips terakhir dari warga lokal ke saya, jangan mengulangi hal sepele ini lagi haha.

Sempat terhenti di tangga naik karena gak sanggup menghirup belerang. Akhirnya tiba saya di puncak Ijen untuk beristirahat dan menikmati sunrise yang menakjubkan dan cuma saya dapatkan di Ijen. Terima kasih Ijen, besok-besok saya kembali :D

Foto-foto di perjalanan turun kembali menggunakan kamera smartphone

Foto diambil menggunakan kamera smartphone

foto diambil menggunakan Kamera smartphone

Toraja, alam dan budaya yang mempesona
Toraja, siapa sih yang tidak mengenal kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan ini? Alamnya yang indah dan asri ternyata masih menyimpan warisan tradisi budaya dari leluhurnya. Mulai dari ritual upacara kematian, situs pemakaman, dan masih banyak lainnya.Jadi masih ragu buat memasukkan Toraja di list travelling kalian tahun ini? Nah, berikut adalah 7 destinasi yang mesti kamu singgahi ketika ke toraja. Jadi, jangan bingung dulu yah


1. Londa

Londa, adalah situs pekuburan batu di Toraja. Disinilah kita bisa melihat tradisi pekuburan batu para leluhur dan keturunannya. Terdapat tulang belulang dan tengkorak yang disimpan di sebuah peti. Serta juga patung tau-tau yang disimpan di pinggir batu-batu dinding.Kalian juga bisa loh menyusuri goa di Londa, tapi kamu harus menyewa lampu yang disediakan disana kalau tidak mau gelap-gelapan. Tenang, disana ada guide lokal yang siap menemani kamu menyusuri goa ini. Di dalam goa terdapat juga tulang belulang, kuburan dengan sejarahnya masing-masing.
Foto Londa
View Londa dari gerbang masuk
Patung Tau-tau. Menandakan bahwa siapa-siapa yang dimakamkan di Londa dan juga menandakan bahwa mendiang memiliki kasta yang tinggi
Guide lokal yang ternyata pernah lama tinggal di Balikpapan. Tarif guide sukarela, sewa lampu 50rb. 
Tengkorak di goa yang terdapat di Londa

2. Kampung Lolai, Negeri di Atas Awan

Jangan lupa juga ke Kampung Lolai. Disini kamu bisa melihat hamparan persawahan hingga rumah-rumah tongkonan milik warga.Biasanya wisatawan memenuhi Lolai ini di pagi hari karna Kampung Lolai ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Dan jika beruntung kalian juga bisa menyaksikan awan yang menggumpal menutup pemandangan kota. Itulah yang membuat kampung lolai ini dikenal dengan nama Negeri di Atas Awan.

Foto Lolai
Menyaksikan sunrise di Lolai. Sayang waktu kesini tidal seberuntung dengan netizen-netizen lainnya. Biasanya pagi hari, awan menggumpal di Lolai

Ternyata di balik Lolai, menyimpan pemandangan sawah yang bikin mata meleleh
3. Nikmatin Alam yang Indah dan Masih Asri di Batutumonga
Selain Lolai ada juga Batutumonga, disini kamu juga bisa menikmati alam yang sangat indah dan bikin hati makin tenang. Sebuah desa yang berada di Toraja Utara ini juga tidak kalah dengan Lolai. Bedanya, Batutumonga tidak seramai dengan Lolai. Selama perjalanan kalian juga melewati beberapa objek wisata seperti Pana, dll.


Foto Batutumonga

Sunrise di Batutumonga
Nyaksiin view gini tiap pagi bikin pikiran plong 
Warlok (Warga Lokal)

4. Mengintip Batu Menhir di Kalimbuang Bori
Ternyata ada warisan megalitikum yang masih terjaga, yap Kalimbuang Bori. Bebatuan yang unik dan tinggi ini tersusun sangat rapi. Selain itu juga terdapat batu-batu lainnya yang berukuran besar juga sebagai tempat makam masyarakat toraja. Di Belakang kawasan objek wisata kalimbuang bori juga terdapat baby grave dan tongkonan unik.

Foto Kalimbuang Bori

Kalimbuang Bori


5. Kete Kesu
Siapa yang tidak mengenal Kete Kesu, salah satu objek wisata yang sudah gak asing lagi oleh wisatawan yang berkunjung ke Toraja. Disini terdapat rumah tongkonan yang berjejer dengan rapi. Serta kuburan yang menyimpan banyak tulang-belulang para leluhur. Disana juga tersimpan patung tau-tau. Di Kete kesu kalian juga bisa belanja oleh-oleh khas Toraja mulai dari kain ikat kepala, gelang, kalung, miniatur patung tau-tau bahkan juga mencicipi kopi Toraja.


Desa Adat Kete Kesu


6. Buntu Burake
Ini bukan di Brazil, tapi Patung Yesus ini ada di Toraja. Yap, di Toraja kamu juga bisa melihat patung tersebut tepatnya di Bukit Buntu Burake, Tana Toraja. Patung Yesus ini salah satu objek wisata yang juga jadi andalan para turis. Disini kamu bisa melihat pemandangan Makale dari ketinggian. 
Nah, kalo kamu juga berani bisa tuh nyobain berdiri di atas lantai kaca di Buntu Burake.


Foto Buntu Burake
Patung Yesus Buntu Burake
Perbukitan di Buntu Burake

7. Tilanga
Tilanga Pool, kolam yang satu ini juga bisa jadi destinasi liburan kamu di Toraja. Kalian bisa juga melihat belut purba yang berukuran besar di Tilanga Pool. Caranya kamu bisa membayar pawangnya yang merupakan anak-anak kecil disana dengan memberi tip dan membeli telur. Di belakang kolam tilanga terdapat gua yang konon memiliki cerita legenda tentang anak dan ibu yang terjatuh terkena batu. Tilanga masih digunakan sebagai tempat ritual oleh masyarakat Toraja.Gimana, sudah tahu destinasi mana yang bakal kamu tuju ketika di Toraja? Tentunya masih banyak lagi destinasi yang bisa kamu datangin ke Toraja.


Tilanga, terdapat belut purba disini. Konon masih digunakan sebagai tempat para masyarakat melakukan ritual

Nah, Bagaimana? masih ragu buat jelajahi Toraja?

Jangan lupa tetap jaga sopan santun kalian ketika mengunjungi wisata alam dan budaya yang ada di Toraja yaaa. Selamat berlibur dan selamat menikmati Toraja.

Buat persiapan sebelum ke Toraja bisa dibaca di artikel yang saya ulas sebelumnya, klik disini
Toraja, Dibalik Indahnya Alam Tersimpan Tradisi Budaya yang Masih Kental. Wajib Masuk di List Travelling Kalian.
Toraja, salah satu daerah yang punya keindahan alam yang menakjubkan. Siapa sangka dibalik keindahan alam nya, Toraja masih memiliki tradisi dan budaya yang masih kental dan banyak dibicarakan oleh berbagai orang di belahan dunia manapun.

Toraja terbagi menjadi dua yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Salah satu tradisi yang paling dicari-cari oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara adalah Rambu Solo dan Ma'Nene.

Untuk menuju ke Toraja, bisa menggunakan pesawat dengan rute menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar lalu melanjutkan perjalanan darat bus mulai dari 110rb rupiah tergantung jenis busnya. Durasi perjalanan 8-9 jam. Tenang, busnya nyaman kok tapi yah sediakan lah kantung plastik karena jalanan disana lumayan berkelok-kelok.

Namun, sebelum saya ulas tentang wisata dan tradisi di Toraja. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum ke Toraja, Sulawesi Selatan.


1. Itinerary, Hmmm perlu gak yah?

Sesungguhnya perjalanan ini udah ditata dari jauh-jauh hari. Tapi ternyata ada beberapa perjalanan di luar rencana seperti diajak buat eksplore daerah Kapitoo ini bareng dua backpacker asal Hungaria dan Argentina.
Sebenarnya itinerary perlu banget bagi para traveller buat bikin perjalanan kalian jadi lebih teratur dan disiplin. Tapi, bukan berarti itinerary mesti kalian selalu ikutin. Karena, kita gak tau selama di perjalanan ada hal apa yang bikin rencana perjalanan kita jadi berantakan atau malah jadi lebih berkesan.

Salah satu pengalaman waktu di Toraja kemarin, saya bersama teman @candrawnt udah nyiapin list perjalanan dari jau-jauh hari. Eh tau-tau harus berantakan sebelumnya karna kami berangkat dengan menggunakan kapal yang delay hingga 15 jam lamanya. Walaupun memang perjalanan kapal adalah hal biasa delaynya.

Selain itu, saya juga diajak oleh pemilik tempat penginapan kami untuk trekking kecil-kecilan di salah satu tempat yang keren dan tanpa rencana. Padahal, saya udah merencanakan destinasi yang harus dituju. Tapi, dari sebuah ajakan ringan tersebut saya malah menjadi dapat sebuah pengalaman berkesan disini.


2. Mau tidur dimana selama di Toraja?
Sesean Bed n Breakfast di Rantepao tempat saya menginap selama di Toraja
Ada banyak banget sebenarnya penginapan di Toraja. Mulai dari high cost hingga low cost dengan fasilitas masing-masingnya. Kalo saya sih lebih suka tidur di penginapan yang bisa sering ketemu sama pemiliknya dibandingkan tidur di penginapan mewah yang tidak memungkinkan terjadinya interaksi dengan warga lokal.

Atau kalau mau lebih murah lagi dan kalian tahan dengan dingin, bisa loh nyobain menginap di Lolai atau negeri di atas awan. Kamu bisa membawa tenda sendiri dengan membayar sekitar 50rban sebagai tarif kebersihan atau juga bisa menyewa tenda yang udah disiapin disana yang disewakan mulai dari 100rb s.d 300rban.

Tapi buat yang pengen di kota saja, aku sih nyaranin di Sesean Bed n Breakfast tempat penginapan saya kemarin di Jalan Sadan yang gak jauh dari pusat pertokoan Rantepao dan terminal Bolu. Kalian bisa booking di

Sesean Bed n Breakfast (Booking)
Sesean Bed n Breakfast (PegiPegi)

Selain karna penginapannya murah dan fasilitas memadai, juga pemiliknya friendly banget. Mba Ela, yang udah ngasih banyak bantuan selama di Toraja. Beliau yang juga udah ngasih tempat-tempat rekomendasi  yang mesti dikunjungin. Sampai diajak chrismast dinner yang kebetulan waktu itu memang kita datang diwaktu natal.

Jadi serasa tidur di rumah sendiri yakkk...


3. Selama di Toraja, Enaknya Pake Transportasi Apa?
Pake motor lebih seru buat ngejelajahin Toraja.
Ada banyak banget transportasi pilihan buat kalian yang ingin eksplore tempat wisata di Toraja. Tapi saya sarankan sih lebih seru pake motor. Nah, kebetulan banget tuh Mba Ela juga nyediakan penyewaan motor yang murah.

Tapi ingat, jaga selalu kendaraan yang kalian sewa. Kunci tuh yang paling penting, karna kemarin sempet ilangin kunci motor sewaan hehehe. Kronologinya berawal dari keinginan hemat bensin dari puncak tertinggi Lolai. Karna jalanan menurun, jadi matikan mesin tapi kunci tetap lengket di motor. Pas udah sampe di pertengahan jalan, baru nyadar kuncinya lepas dan jatuh gak tau kemana.

Dan untungnya, ada warga yang mau ngebantu buat sambung kontak buat nyalakan mesin motor. Dan setelah itu barulah ke duplikat kunci yang ternyata cuma ada satu-satunya di Toraja, Sulawesi Selatan.

Jangan takut tersesat, karna semur destinasi bisa di tracking dengan google maps. Atau jangan malu bertanya kepada warga.

4. Wah, Kulineran Dimana Yah Selama di Toraja?
Sebenarnya gampang banget sih nyari tempat makanan di Toraja terutama buat kalian yang mencari masakan halal. Karena penduduk disini memang mayoritas non muslim, jadi hampir seluruh sudut kota menawarkan kuliner daging babi dengan macam olahan seperti sate, bakso, dll.

Untuk masakan halal bisa kalian temui dimana-mana, mulai dari Pertokoan Rantepao, Lapangan Bakti atau dekat Terminal Bolu juga ada. Dan pastikan sebelum makan untuk bertanya yah.

Harga makanan di Toraja yah lumayan sih, mulai dari 20rb hingga 30rban sekali makan. Jadi siapin budget kalian juga buat konsumsi selama perjalanan, kalo mau low cost sering-sering puasa aja yak wkkk.


5. Pengen hangout ala Anak-anak Muda Toraja, Dimana yah?


Waduh ini mah banyak banget cafe-cafe anak muda Toraja mulai dari kana coffe, aras coffe hingga letter el coffe yang berada di daerah pertokoan Rantepao.

Tapi, dari seluruh tempat nongkrong yang udah kita sambangi, cafe favorit saya jatuh kepada Kapitoo dengan view perbukitan dan nikmatin kopi di atas awan bener-bener bikin susah buat move on dari cafe ini. Terimakasih sebelumnya buat Mba Ela, selaku pemilik penginapan Sesean Bed N Breakfast yang udah ngasih kita banyak sekali tempat-tempat rekomendasi selama di Toraja.






Gimana cuy? udah siap gak buat mengeksplore Toraja, Sulawesi Selatan? Jangan lupa buat ajak teman-teman kalian buat ngenikmatin indahnya Toraja bareng-bareng. Karna, kalo ngenikmatinnya sendiri sadis broooo...

Selanjutnya, saya bakal share tempat-tempat yang mesti kalian kunjungin selama di Toraja. Ulasan di rangkum oleh tim @ceritakan.nusantara

Team Up:
Videographer selama di Toraja: @_hellorizal
Photographer selama di Toraja: @candrawnt


Ibu Kadinah memegang belimbing madu di kebunnya.
Siapa sangka belimbing ini ternyata bukanlah mainan ataupun aksesoris penghias halaman rumah. Ternyata, buah belimbing yang berukuran jumbo ini yang dikenal dengan nama Belimbing Madu sudah menjadi tanaman khas yang memenuhi halaman rumah para warga di Kampung Berseri Astra Giri Rejo, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pak Suko adalah salah satu warga KBA yang berusia 34 tahun ini, telah menanam buah belimbing madu sejak 8 tahun yang lalu. Beliau membawa bibit buah belimbing madu ini dari pulau jawa tepatnya di Karangsari, Blitar, Jawa Timur. Oleh karena itu, lokasi budidaya belimbing madunya seringkali menjadi percontohan warga. Kini beliau telah memiliki sekitar 50 pohon belimbing madu.

Keistimewaan buah belimbing madu ini, buahnya bukanlah buah musiman. Jadi, kalian tidak perlu menunggu waktu yang lama dan musimnya untuk ingin mencicipi buah ini. Sekilonya, harga belimbing madu ini dijual mulai dari 35ribu rupiah.

Khusus di Kampung Berseri Astra Balikpapan, kalian bisa loh mencicipi buah tersebut di kebunnya dan memetik langsung dari pohonnya. Khasiat buah belimbing madu ini salah satunya adalah menurunkan tensi bagi belimbing yang berwarna hijau. Cara penyajian bisa di blender ataupun dimakan langsung.

Buah belimbing madu yang di okulasi dengan belimbing lokal ini, proses budidayanya ternyata tidak mudah. Pak Suko, tidak ingin merawat tanaman belimbing madunya dengan menggunakan pupuk-pupuk kimia yang katanya punya resiko bagi tanamannya. Beliau lebih memilih menggunakan pupuk kandang dari kambing, dsb.

Pak Suko, memegang belimbing madu yang masih kecil. Dan akan ditutup dengan sebuah plastik untuk menghindari hama lalat buah
Buah belimbing madu yang masih kecil dan berwarna hijau sudah ia tutupi dengan plastik bening satu per satu guna menghindari hama lalat buah. Lalat buah yang mengganggu tersebut bisa membuât belimbing madu mengalami pembusukan di bagian dalamnya.

Hasil panen buah milik Pak Suko ini biasanya dijual langsung ke lapak pinggir jalan yang berada di KM. 19 Balikpapan - Samarinda oleh adiknya. Sebenarnya udah banyak sekali berbagai perusahaan supermarket modern dan kios-kios buah di kota yang menawarkan kerjasama. Namun, karna jumlah produksi yang masih rendah membuat pak Suko tidak mampu untuk menerima tawaran tersebut.

Kehadiran PT. Astra International Tbk di kampung ini telah memberikan manfaat buat warga di kampung yang berada dekat dengan kawasan jalan tol Balikpapan-Samarinda ini. Bahkan, pak Suko juga bisa bernafas lega karena dengan adanya bantuan 500 bibit ke warga setidaknya memberikan harapan akan jumlah produksi belimbing madu di kampung ini menjadi lebih tinggi.

Hasil petik belimbing madu di kebun Pak Suko di Kampung Berseri Astra Balikpapan.
Pak Suko juga berharap setelah adanya pemberian bantuan bibit ini bisa meningkatkan produksi yang ada di kampung ini serta memberikan potensi kawasan agrowisata baru di Kampung Giri Rejo.

Dia juga berharap agar ke depan mereka bersama teman-teman petani belimbing madu bisa membuat produksi olahan baru dari buah ini. Seperti camilan keripik, dodol, dll.

Kini kita bisa menemukan buah belimbing madu ini dengan mudah di Kampung Giri Rejo Km.13 Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara.

Bagaimana, tertarik menikmati buah belimbing madu yang manis ini? Yuk langsung ke kebunnya dan nikmatilah!

#KitaSATUIndonesia
#SemangatKampungIndonesia

Berikut video cuplikan highlight kebun belimbing madu di KBA Balikpapan


Pak Alex, Pemilik UKM Rotan di KBA Makassar Rappocini.
Siapa bilang bisnis beromzet jutaan rupiah harus punya pabrik atau tempat yang luas?

Pak Alex, pria yang berusia sekitar 50 tahun ini telah membuktikan bahwa gak mesti punya tempat besar untuk menghasilkan sebuah karya yang bernilai rupiah.

Sepintas jika kita melewati sebuah lorong kecil di Rappocini, yang kini telah menjadi pilihan Kampung Berseri Astra Makassar ini terlihat sebuah rumah sederhana tapi beromzet jutaan rupiah. Terpampang tulisan UKM Rotan di atas pintu rumah pak Alex yang berada di RT.2 RW.4 Kelurahan Rappocini.

Rumah pak Alex yang digunakan sebagai tempat usaha kerajinan rotan.
Di kejauhan memang terlihat segerombolan kursi dari kayu rotan bergelantungan di loteng rumah beliau. Pak Alex memulai usaha kerajinan rotan ini mulai tahun 1985 hingga sekarang. Dari tangannya, beliau bisa menghasilkan berbagai macam produk kerajinan mulai dari kursi, tempat buah parsel, hingga tirai penutup.

Dalam sehari, beliau bisa menghasilkan puluhan produk kerajinan rotan. Beliau mengerjakan usahanya, dibantu oleh 4 karyawan yang berasal dari pihak keluarga dan bahkan ia merekrut pekerja dari luar. Karena tempat produksi kerajinan yang begitu sempit dan berada di loteng dengan akses tangga yang masih belum permanen, biasanya beliau membiarkan para pekerja melakukan tugasnya di rumah masing-masing.

Rotan yang digunakan oleh pak Alex dalam membuat kerajinan ini adalah rotan Batang dan rotan Tohiti. Biasanya beliau membeli rotan tersebut di kawasan jalan tol. Harganya pun bervariatif berdasarkan ukuran rotan.


Pak Alex sedang bekerja di loteng rumahnya yang tidak begitu luas.

Tangga kayu yang digunakan sebagai akses menuju loteng rumah.

Hasil produksi kerajinan rotan milik pak Alex di pasarkan ke toko-toko furnitur dan pasar buah yang ada di kota Makassar. Bahkan hasil produksi pak Alex juga dijual hingga ke luar pulau. Namun, tidak sedikit juga banyak para peminat yang langsung memesan ke pak Alex.

Kehadiran PT. Astra International Tbk di kampung ini ternyata telah memberikan semangat baru bagi pak Alex untuk terus maju dalam usaha yang dimilikinya. Di tahun 2016, UKM Rotan milik beliau telah diperhatikan oleh Astra. Berbagai bantuan telah ia dapatkan seperti bantuan tunai hingga renovasi tempat usahanya.

Bagi pak Alex, bantuan ini dirasa sudah sangat membantu kelancaran usaha kerajinan rotannya. Namun, kini ia masih berharap akan bantuan kembali untuk melengkapi kekurangan yang masih ada.

Semangat Pak Alex tentu adalah motivasi semangat bagi kita semua. Beliau adalah satu dari sekian banyak orang di kampung-kampung yang ada di Indonesia, yang bisa menginspirasi kita dalam maju untuk berusaha. Dari tangan kreatifnya beliau menitipkan pesan agar anak muda Indonesia bisa terus berkarya seperti dirinya.

Sukses buat pak Alex.

Salah satu produk kerajinan rotan milik pak Alex.


#KitaSATUIndonesia
#SemangatKampungIndonesia

Berikut adalah video highlight UKM Rotan Kampung Berseri Astra Makassar di Rappocini