Melihat Persiapan Festival Hudoq di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur - Vol. 1

By Rizal Abdillah - November 04, 2018

Festival Hudoq Cross Border di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Salah satu cara mempromosikan sebuah budaya di daerah adalah menggelar sebuah festival seni dan budaya. Salah satunya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Kali ini saya kembali tertarik untuk mengunjungi Festival Hudoq Cross Border yang digelar dari tanggal 25 - 28 Oktober di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Bagi saya, perjalanan kali ini lebih menantang dibanding perjalanan-perjalanan sebelumnya. Bagaimana tidak, perjalanan ini benar-benar membutuhkan waktu yang panjang dan fisik yang fit.

Perjalanan menuju ke Ujoh Bilang harus menempuh perjalanan via kapal atau speed boat. Karna Kabupaten Mahakam Ulu ini terbilang unik karena berada di tepi Sungai Mahakam. Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur.

Perjalanan Dimulai

Perjalanan saya mulai dari Kota Balikpapan. Saya menggunakan transportasi udara menuju Kecamatan Melak, Kutai Barat. Waktu lebih singkat dibanding menggunakan jalur darat yang bisa ditempuh hingga 10 jam lamanya. Kemudian dari Bandara Melak menuju Pelabuhan Tering dengan ongkos taksi yang begitu mahal 250ribu rupiah yang ditempuh sekitar 20 menitan.

Tenang disini ga ada yg namanya macet, karna jalanan masih sepi.

Di Pelabuhan Tering saya beristirahat sejenak sambil mengisi perut untuk melanjutkan perjalanan dengan menyusuri Sungai Mahakam. Perjalanan menggunakan speed boat sekitar 3 jam paling cepat. Dengan ongkos sekitar 300rb per orang. Wow begitu mahal ongkos tersebut.

3 jam memang sangat lama bagi saya, namun sepanjang perjalanan kita akan melihat begitu kayanya hutan Kalimantan. Walau beberapa kali terlihat sebuah aktivitas logging di tepi sungai. Serta kita akan lebih sering berpapasan dengan kapal-kapal kayu serta tongkang yang mengisi batu bara dan pohon sawit.

Kadang kita melihat fauna khas kalimantan seperti Burung Kuntul bewarna putih.

Cuaca memang terik, tapi suasana cukup sejuk. Beberapa kali speed boat yang ditumpangi menepi di beberapa desa. Kawanan orang naik ke speed boat, wajar karna transportasi cepat dan mudah diakses oleh warga sini hanyalah kapal atau speed boat di Sungai Mahakam.



Aktivitas logging




Batu dinding kapur di tepi Sungai Mahakam. Disini terdapat kuburan-kuburan masyarakat dayak.



Pelabuhan Ujoh Bilang, tampak kapal barang dan penumpang dengan tujuan Samarinda.
Selamat datang di Kampung Berbudaya.

Sesampai di Ujoh Bilang.

Selamat datang di Kampung Ujoh Bilang, Mahakam Ulu. Sebuah desa pertama yang saya hampiri di Kabupaten baru yang telah dimekarkan ini. Sinyal yang tidak begitu romantis bagi saya, tapi tak apa-apa karna tujuan kedatangan kesini untuk menjauhi ketidakwarasan tugas-tugas di kota haha.

Sinyal yang baik disini hanyalah Telkomsel, walau internetnya lemot tapi untuk SMS dan Telpon masih lancar.

Setelah sampai di Ubil (Ujoh Bilang), saya langsung menghampiri penginapan Marissa. Penginapan tempat saya menginap di Ubil. Lokasinya tak jauh dari Pelabuhan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit saja.

Penginapan disini lumayan mahal, apalagi saat festival begini. Sekamar bisa sampai 600rban, wow. Untuk makan di Ujoh Bilang juga menguras kantong, seporsi Nasi Kuning berkisar 25rb -35rb rupiah. Disini ternyata juga banyak orang Jawa, Banjar, Bugis. Jadi makanan apa saja mudah ditemukan seperti Lalapan, Sate, Soto Ayam Lamongan pun juga ada.

Sayangnya, disini tidak ada makanan khas Ujoh Bilang.

Walaupun terdapat ATM milik BRI disini, tapi kalian yang ingin datang kesini juga harus menyiapkan uang cash saku kalian.

Sore hari setelah menaruh sebagian barang di penginapan, saya langsung mengelilingi desa ini untuk melihat persiapan warga dalam festival ini. Disini desanya kecil, jadi gak mesti naik angkutan-angkutan gitu kalo mau kemana-mana.

Begitu ramai, di lapangan Ujoh Bilang begitu banyak warga datang dari berbagai daerah di Mahakam Ulu. Seperti Long Apari, sebuah desa yang jauh lagi.

Berikut foto-foto persiapan mereka

Anak-anak memainkan Musik dari sebuah alat musik khas dayak sepeti gendang.


Ada pakaian khas Jawa di tengah pakaian khas Dayak. Membuktikan bahwa masyarakat disini cinta akan keragaman. Wah salut

Persiapan para kontingen


Stand dari warga Long Apari








Selepas menyaksikan persiapan mereka, saya melanjutkan melihat tradisi ngaraang di malam hari. Menari sampai pagi yang bakal saya ulas di artikel selanjutnya.

  • Share:

You Might Also Like

9 komentar

  1. Luar biasa artikelnya.. menampilkan budaya setempat dan menambah pengetahuan bagi pembaca situs ini.

    ReplyDelete
  2. Dokumentasinya lengkap jadi puas bacanya ..

    ReplyDelete
  3. Wow, mahal sekali untuk bisa berkunjung kemari. Apa mungkin pariwisatanya bisa berkembang kalau le sananya aja ribet banget?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah inilah kalimantan, semoga pemerintah bisa cepat membangun infrastruktur-infrastruktur yang layak secepatnya bagi mereka. Tapi saya yakin pariwisata bisa berkembang disana.. karna Mahakam Ulu merupakan salah satu daerah yang masih kental tradisinya di Kalimantan.

      Delete
  4. Entah mengapa saya sering kelewatan klw ada acara2 adat seperti ini. Saya kudet, dan hari cuti utk piknik mmg kadang gak pas dgn pelaksanaan acara adat. Haha!

    Dua tahun silam saya sempat ke Mahakam Ulu. Menyusur sungai Mahakam dari Tering hingga Long Bagun,Long Bagun ke Tiong Ohang, lalu lanjut ke Long Apari di perbatasan Malaysia. Jeram2nya mengerikan, nyaris bertaruh nyawa. Tapi sayang, yeah lagi gak ada acara adat di sana. Tapi apapun itu, saya masih inget betul perjalanan itu.Salah satu perjalanan terbaik dan memorable sepanjang hidup saya. Apalagi perjalanan itu bisa dikatakan cuma modal nanya orang di jalan, tanpa itin sama sekali.

    Selamat mengeksplore negeri tercinta ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow perjalananmu lebih menyenangkan sepertinya. itu cita-cita saya mendatangi desa Long Apari semoga saya bisa menyusul. Benar sekali, kita harus riset sebelum menuju ke destinasi. Untuk di Mahakam Ulu sendiri, tradisi adat seperti hudoq ini dilakukan di musim awal tanam atar sekitar bulan September - November. Mari singgahi lagi Mahakam Ulu yang eksotis ini

      Delete
  5. Jadi pengen ke kalimantan
    Jangan lupa jalan ke blog saya juga yaa

    ReplyDelete