Mengaraang, Menari Sampai Pagi di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu Vol. 2

By Rizal Abdillah - November 09, 2018

Para warga berdatangan di malam hari untuk melakukan tradisi Ngaraang
Saya akan kembali melanjutkan cerita saya yang sebelumnya saya ulas di artikel Melihat Persiapan Festival Hudoq di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu - Vol. 1



MALAM PERTAMA DI UJOH BILANG, MAHAKAM ULU
Hari mulai gelap ini malam pertama saya di Desa Ujoh Bilang, Mahakam Ulu. Sinyal HP masih terbilang oke sampai saat ini untuk sekedar menelpon dan sms. Tapi, untuk internet kadang PHP haha. Tapi itu tidak masalah, karna saya memang ingin menjauhi segala bentuk notifikasi di HP selama di desa pedalaman ini.

Rehat sejenak setelah melihat persiapan Festival Hudoq di Lapangan Ujoh Bilang, Mahakam Ulu. Lalu setelah itu saya ingin menikmati makanan-makanan yang ada disini, walau sebenarnya menu makanan disini sama saja dengan menu makanan yang ada di Balikpapan. Sayang sekali, saya tidak menemukan makanan khas disini.

Menu makan malam saya Soto Ayam di Lapangan Ujoh Bilang. Harga Rp35.000,- ditambah minuman Rp10.000,- rasanya enak dan tidak ada perbedaan kelezatan dengan soto ayam di Balikpapan wkk.
Setelah perut kembali terisi, saya pun mencoba melihat pernak-pernik oleh-oleh yang berada tidak jauh dari tempat saya makan. Ada gelang, kalung, baju, topi hingga anjat (tas khas dayak) yang diperjualkan oleh para pedagang disini. Koleksi dagangannya agak sedikit banyak dan bervariasi dibandingkan yang ada di pasar oleh-oleh Kebun Sayur Balikpapan.

Setelah puas berkeliling di sekitar lapangan ini, saya bergegas untuk mengunjungi Lamin untuk melihat para warga mengaraang (menari panjang). Namun, ketika saya menuju ke Lamin saya bertemu dengan Om Arbain Rambey dan Om Yulianus Ladung yang juga ternyata menghampiri desa ini.

Akhirnya saya pun bergabung bersama dia dan menepi sebentar di sebuah warung milik orang Banjar yang menetap disini. Sedikit berdiskusi dan berbincang di sebuah warung malam itu. Yang tak lama Uyau Moris Pemain Sape International juga ikut nimbrung.






BERGESER DARI WARUNG ke -> LAMIN

Tak lama bunyi pukulan suara seperti gendang terdengar dari warung kami. Dan kami pun menuju ke lamin untuk melihat tradisi ngaraang. Sebuah tradisi yang masih dilestarikan di Kabupaten Mahakam Ulu ini. Tradisi ngaraang adalah tradisi menari panjang yang dilakukan semalaman/sampai pagi. Pada tradisinya, ini dilakukan setelah menugal (menanam padi) pada warga dayak di Mahakam Ulu. Dengan makna tradisi ini adalah berkat Tuhan agar padi yang ditanam memberikan kesuburan dan kemakmuran pada masyarakat dayak.

Pada tari ini, dimana terdapat hudoq yang sedang menari di tengah-tengah, lalu para warga datang menari melingkari panjang para hudoq tersebut dari satu sudut ke sudut-sudut lain. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak datang meramaikan mengaraang ini. Mereka sangat bersemangat dan tidak mengenal lelah.

Suasana yang begitu terasa magis ketika para penari menghentakkan kaki dengan menghasilkan suara keras dan sedikit lagu yang dinyanyikan oleh para penari. Teriak khas sahut-sahutan membuat malam menjadi kembali hidup. Tradisi yang sangat eksotis dan indah. Ini pengalaman pertama saya.























Bergeser masuk ke dalam Lamin, saya mengintip para penari yang sedang menyiapkan diri untuk ikut menari. Namun uniknya, mereka menyiapkan diri dengan memasang tutur hudoq dengan sambil menyanyi dengan bahasa dayak bersuara lantang sambil menghentakkan kaki. Suasana begitu terasa jadi lebih magis lagi bagi saya.



Disini terlihat dua buah telur yang terikat dibawah lamin dekat kayu.

Sungguh kental tradisi yang masih mereka miliki ini.

Malam makin larut, warga makin banyak berdatangan para penari semakin menari bersemangat. Pukulan suara dari gendang semakin keras. Beberapa warga berkumpul untuk menari bersama bahkan sekedar menonton. Tak lama dari lamin sebelah juga sedang melakukan tradisi sama. Beberapa penari di lamin pertama menuju lamin kedua dan meramaikan tempat tersebut secara bergantian.


DI LAMIN KEDUA
Disini juga tidak kalah dengan lamin pertama, para penari semakin ramai. Hentakkan kaki semakin terdengar karna permukaan lantai berasal dari kayu Ulin, kayu khas Kalimantan. Di lamin kedua ini saya malah penasaran dengan isi dari lamin ini.

Lamin kedua ini adalah milik salah satu warga di Ujoh Bilang. Saya kembali mengintip dalamnya, terdapat foto-foto yang saya rasa ini sangat bersejarah bagi mereka.

Disaat itu juga, saya melihat seorang anak sedang memasang tutur Hudoq dan seorang Ayah mempersiapkan tutur Hudoq untuk penampilan esok hari









Malam makin larut, mereka masih menari dengan semangat. Tapi saya memutuskan untuk beristirahat karna besok adalah hari puncak Festival Hudoq di Mahakam Ulu ini. Beberapa alat untuk mengabadikan moment mereka juga harus saya istirahatkan untuk besok.

Cerita tentang Puncak Pemecahan Rekor Dunia MURI Festival Hudoq akan saya ulas di artikel selanjutnya


VIDEO NGARAANG

  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. Mantap nih artikel nya penuh edukasi , bermanfaat min , lanjut kan lah

    ReplyDelete
  2. suka dg tarian tradisional unik dg pakaiannya

    ReplyDelete
  3. Uwaaahhhh kebetulan lg ada om arbain rambey yaaa... :). Selalu suka ama hasil foto2nya dia. Duuuh, aku juga bakal seneng banget kalo bisa belajar dikiiiit aja dr masternya gitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyappp... apalagi belajar sambil jalan2 ama om arbain yah haha

      Delete
  4. Dlu saya juga pernah ke papandayan tp cuma sampe hutan mati doang.. Hehe.

    Mampir balik gan..
    https://enamjurus.blogspot.com

    ReplyDelete