Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Palu, Pasca Gempa Bumi, Likuifaksi dan Tsunami
Palu, Ibukota Sulawesi Tengah menjadi perjalanan saya selanjutnya di bulan maret tahun 2019 ini. Kota yang baru saja dilanda oleh musibah hebat yakni Gempa Bumi, Tsunami dan bahkan fenomena Likuifaksi pada September 2018 lalu.

Membuat saya tertarik untuk melihat suasana terkini kota ini dan mengeksplorasi cerita  mereka.

Berangkat malam menggunakan pesawat transnusa dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu. Perjalanan udara ditempuh hanya sekitar 45 menit saja, pesawat yg saya gunakan begitu sepi mengangkat penumpang.

Saya tidak begitu terlalu berpikir untuk mengunjungi wisata-wisata alam yang terkenal indahnya di Palu sana. Pikiran saya hanya ingin menginjakkan salah satu kota yang dilalui garis khatulistiwa ini untuk mengulik kisah-kisah baru yang bisa jadi inspirasi saya.

Palu, adalah kota yang hampir saja menjadi kota saksi perjalanan pendidikan saya. Dulu, SMA saya sudah hampir untuk pindah melanjutkan sekolah disini.

Dari kaca jendela pesawat tampak kerlap kerlip cahaya dari kota Palu, menandakan bahwa kota ini tidak tidur dan saya berpikir akan mengeksplore Palu malam hari.

Malam Pertama di Palu

Sampai di Bandara saya langsung dijemput oleh kawan yang berasal dari komunitas regional Palu yang juga berelasi dengan komunitas saya di Balikpapan. Dulu, saya sudah pernah bertemu dengen beliau ketika komunitas kami mengikuti gathering nasional di Makassar, Sulawesi Selatan. Walau perjumpaan saat itu hanya saling sapa dan jabat tangan.

Kami bertemu seperti sudah lama saling kenal. Diantarkannya saya ke basecamp komunitas mereka yg letaknya tak jauh dari Pantai Talise, kawasan yang paling para terdampak Tsunami.

Basecamp sederhana, sambutan hangat membuat saya larut dalam suasana mereka yg sedang mempersiapkan barang-barang donasi untuk melakukan kegiatan berbagi kepada anak-anak yg kurang mampu dan anak-anak yg masih berada dalam pengungsian.

Malam itu baru saja saya simpan tas di kamar yg sudah disiapkan untuk tempat saya singgah selama 2 malam, saya langsung diajak untuk ke sebuah kedai kopi. Di sodorin lah saya sebuah hangatnya kopi napu khas Palu. Juga nikmatnya mie dampelas yang membuat malam saya menjadi hangat.

Sambil mencicipi nikmatnya kuliner kota Palu, saya berbincang-bincang tentang kedatangan saya ke Palu. Saya masih bingung kemana kaki saya akan melangkah, hingga akhirnya saya diajak oleh salah satu kawan yg juga baru saya kenal untuk ikut sebagai relawan dokumentasi di Kelas Inspirasi Palu yang cerita dan videonya udah saya share linknya di sini.

Akhirnya, saya ambillah tawaran itu. Saya ikut dalam kegiatan Kelas Inspirasi Palu di SD Negeri Tondo.

Sekolah ini juga terdampak dari Gempa Bumi, terlihat anak-anak sekolah bersemangat untuk belajar juga beberapa anak terlihat sangat nakal-nakal yah namanya juga anak-anak. Beberapa dari murid terlihat tidak menggunakan pakaian sekolah, maklum beberapa anak-anak disini ada yg kehilangan harta benda pasca bencana kemarin.

Usai menghabiskan waktu di Kelas Inspirasi, kami melakukan refleksi di sebuah pantai di Palu. Rasa ketakutan muncul, mungkin karna tidak terbiasa dengan pantai di sebuah kota yang baru saja dilanda Tsunami. Di agenda refleksi, saya bertemu dengan banyak kawan dari berbagai daerah. Ternyata bukan saya saja peserta dari luar pulau, ada yang berasal dari Jakarta.

Malam Ke Dua di kota Palu.

Sore hari saya habiskan untuk menikmati sebuah kopi di cafe yang berada di tengah kota tak jauh dari Lapangan Vatulemo balaikota Palu. Menggunakan gojek dari kedai kopi ke lapangan vatulemo, menikmati malam minggu pertama saya di Palu.

Di perjalanan menggunakan gojek, saya tentunya selalu mengajak cerita para driver yg saya tumpangi. Namun kebetulan kali ini saya bertemu dengan driver gojek yang tinggal di kawasan Petobo. Sebuah nama kelurahan yang terkena dampak fenomena Likuifaksi terbesar di Kota Palu.

Beliau selamat dari kejadian itu....

Singkat cerita driver gojek ke saya di sebuah perjalanan menuju lapangan, 

saya (driver gojek) sedang mandi tiba-tiba bunyi gemuruh dan bergetar ia melarikan diri hanya menggunakan pakaian dalam saja. Lalu saya lari menyelamatkan diri, tapi saya ingat orang tua saya ibu saya, kaki ibu saya terhimpit bangunan runtuh dan saya tolong ibu saya sambil berteriak kepada tetangga. lalu tak lama, bunyi gemuruh kembali dan kejauhan melihat sebuah gelombang datang sangat cepat tapi bukan air berupa tanah, rumah dan jalanan yang bergeser. Saya tidak mengerti fenomena itu, saya pun sangat kaget dan tak bisa berbuat apa-apa hanya teriakan minta tolong dan ucapan takbir yang bisa saya lontarkan dari mulut saya. Lalu ibu saya menyuruh saya untuk pergi dari sini dan menyelamatkan diri. Akhirnya saya tetap bersama ibu, ternyata tuhan masih memberikan keselamatan bagi kami.

Likuifaksi hampir menelan mereka namun, kerabat dekat rumah mereka hilang ditelan begitu saja. Malam itu panjang bagi saya dan ibu yang masih bertahan di reruntuhan, suasana gelap tak seterang malam kemarin. Saya berpikir ini sudah kiamat, akhirnya ibu saya berhasil keluar dari puing reruntuhan sekitar jam 9an malam setelah datang bantuan.

Tak lama, sampailah di Lapangan Vatulemo. Lapangan malam ini ramai seperti lapangan merdeka di Balikpapan.

Hari Terakhir di Palu

Singkat tapi berkesan, hari terakhir saya diajak untuk ikut ke acara Millenial Festival. Tapi, saya belum puas dengan cerita yang saya dapatkan tadi malam. Hari terakhir ini, saya ingin mengeksplore kawasan Pantai Talise yang merupakan kawasan paling terdampak Tsunami.

Pagi, tapi belum begitu terang. Saya nikmatin nasi kuning dan teh hangat setelah itu menyusuri jalanan kota Palu menuju Jembatan Kuning yang kini sudah putus. Pantai Talise merupakan pantai yang saat kejadian sedang mengadakan kegiatan festival palunomoni.

Di kawasan Pantai ini terlihat gersang, rumah-rumah dan bangunan hancur tak karuan. Pohon-pohon seperti habis diserang kekeringan. Meninggalkan berbagai kisah-kisah cerita. 

Saya lalui semua jalanan, saya hampiri juga perkampungan yang kini sudah rata. Barang-barang bekas korban masih terlihat berserakan disini mulai dari celana, sandal, boneka, tas bahkan sebuah buku doa juga terlihat diantara puing reruntuhan.

Masjid Apung Palu yang terlihat masih kokoh tapi sudah tidak berfungsi akibat pondasi runtuh di pantai ini. Saya menyusuri kawasan paling parah ini, dari kejauhan masjid mengumandangkan alunan lagu qasidah. Seolah saya sedang dalam perjalanan spiritual kali yah.

Sedikit cerita ketika saya mengunjungi kawasan pantai talise, saya bertemu dengan seorang ibu berjubah hitam dan berkerudung pink. beliau tampak melihat sebuah rumah yg sudah hancur ditelan ombak Tsunami. saya pun mendekat dan mengajak beliau ngomong. 

Bu, permisi

Iya nak

Rumahnya ibu?

Iya, kasian

Gimana keluarga sehat dan selamat semua?

Alhamdulillah

Gimana bu kemarin, pas kejadian lagi dimana?

Lagi dirumah, gempa pertama saya sudah lari meninggalkan rumah kemudian gempa lagi beserta ombak tsunami

Tetiba ibunya mengeluarkan air mata dan suara bergetar, tak sanggup saya mendengar ibunya bercerita tapi beliau terus bercerita tanpa berhenti sambil menunjuk semua daerah yg dia ingat.

Disini nak dulu jalanan kecil saya sama tetangga saya sering saling mengunjungi, sekarang sudah hancur.

sambil menyebut nama Tuhan dan sedikit mengeluarkan air mata.

Depan rumah saya ini ada rumah juga teman saya, pas saya kembali setelah kejadian saya liat ternyata sudah rata dan semua mayat banyak sekali nyangkut di dalam rumah saya yang masih berdiri ini.

Kemudian ibunya sulit untuk kembali berbicara

Akhirnya, saya akhiri cerita beliau agar tidak mengganggu tujuan beliau. Saya izin pamit beserta doa yang hanya saya berikan kepada beliau.


Berikut adalah foto-foto saya mengeksplore kota Palu










PETOBO DAN SISA KENANGAN











Dari perjalanan singkat saya di bulan maret ke palu ini banyak sekali kisah dan cerita didapatkan yg menjadi bekal saya untuk terus memperbaiki diri.

Terimakasih Palu, kawan-kawan kelas inspirasi dan kawan-kawan komunitas, walau masih dalam suasana duka tapi mereka masih senyum dan bersemangat.

Semoga ada waktu dan kesempatan lagi ke Palu, Sulawesi Tengah.
7 jam transit di Manado. Enaknya ngapain aja? motret di kawasan pecinan Manado seru kali yak.


Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Menjadi kota selanjutnya yang saya singgahi walau hanya sepintas waktu saja.

Setelah menjejaki Papua Barat dan Maluku Utara, saya pulang dengan memilih maskapai penerbangan yang transit dahulu di Manado. Sekalian, saya ingin melihat kota baru yang belum saya singgahi dalam perjalanan saya selama ini.

Seperti biasa, alarm pagi berlapis karna jam keberangakatan dari Bandara Ternate ke Manado. Maklum, trauma pernah ketinggalan pesawat pagi. Namun, kini saya bisa bangun lebih awal. Malah, saya berangkat ke bandara lebih pagi ah syukurlah.

Namun ternyata, kamera lumix saya tertinggal di kamar hotel ketika saya sudah sampai di Bandara ah siallll. Akhirnya saya kembali ke hotel dengan harapan kamera dalam kondisi aman. Untung saja saya ke bandara lebih pagi dan lokasi bandara tak jauh. Tapi ongkos ojek setidaknya menguras jatah minum kopi saya di Manado nanti haha.

Setelah tragedi pagi itu berakhir, akhirnya saya kembali ke bandara dengan selamat dan sesuai dengan waktunya. 

MANADO, PAGI BAE

Saatnya katakan sampai jumpa lagi Ternate dan pagi bae Manado. Suasana mendung menyambut pagi pertama saya di kota ini. 7 jam transit lumayan lama jika saya hanya melamun dan membatu di Bandara Sam Ratulangi. Niat pula ingin menghampiri saudara di Manado tapi ternyata beliau sedang berada di luar kota.

Akhirnya, saya memilih untuk hunting-hunting foto kawasan pecinan dan pertokoan tua di tengah kota Manado. Jaraknya lumayan jauh dari bandara, saya berangkat menuju kota dengan memesan Gocar yang terbilang lebih murah dibanding saya menggunakan taksi konvensional.

Berikut adalah foto-foto saya keliling kawasan pecinan dan pertokoan di Manado


kebetulan datang kesini saat mendekati perayaan Cap Go Meh. tampak masyarakat Tionghoa sedang mempersiapkan klenteng-klenteng mereka





Gimana? tartarik untuk mengitari kawasan pecinan di Manado? jika transit, jangan sampai kalian melewatkan moment-moment menarik di kota ini. 


Selamat mengeksplore Manado!



Palu, menjadi pilihan kota selanjutnya yang saya kunjungi di bulan maret.

Kalo bisa dibilang, ini adalah perjalanan yang dadakan direncanakan. Sesampai di kota Palu, Sulawesi Tengah jumat malam (8/3/19). Saya langsung diajak oleh kawan yang baru juga saya kenal di Palu dari jaringan komunitas regional yang saya ikuti. Diajaknya saya ke sebuah warung kopi untuk menyicipi kopi napu khas Palu. Ditambah dengan hangatnya kuliner mie dampelas yang bikin badan makin hangat.

Sambil menyantap kuliner dan kopi napu, saya memikirkan kemana tempat yang akan saya tuju di kota ini. Kebetulan kawan sedang bercerita, bahwa besok pagi dia akan melakukan kegiatan Kelas Inspirasi Palu. Salah satu tim KI Palu membutuhkan teman-teman relawan dokumentasi di beberapa sekolah.

Akhirnya, saya ikut dengan mereka walaupun tanpa persiapan yang matang. Yah itung-itung buat mengisi waktu pagi esok dengan bertemu pemuda pemudi di Palu yang punya semangat besar dalam memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak-anak di Palu.

Saya kebagian di SD Negeri Tondo, tidak jauh dari tempat saya menginap yah sekitar 20 menit lah dengan kendaraan motor yang dipinjamkan.

Pukul 06.45 WITA, berangkat lah saya. Keluar dari tempat penginapan yang sederhana saya langsung takjub melihat pemandangan indah di pagi hari di kota Palu. Kota yang dilintasi garis khatulistiwa ini ternyata dikelilingi oleh pegunungan. Maklum, tadi malam tidak dapat melihat keindahan palu dari atas langit karna gelap. Yang terlihat hanyalah cahaya lampu yang menerangi kota.

Menuju SDN Tondo dengan melewati jalan poros di pesisir pantai, tampak pemandangan bangunan yang berjejer dengan bekas reruntuhan di sepanjang perjalanan. Jalanan yang terlihat bekas patahan-patahan gempa. Juga sesekali melintas di kawasan hunian sementara rakyat yang berupa tenda masih berdiri di kawasan pesisir. Dalam hati berpikir bagaimana rasanya tinggal di dalam tenda tersebut dalam kondisi yang sempit dan panas.

Sampai juga di SDN Tondo dan saya pun langsung mendokumentasikan kegiatan teman-teman Kelas Inspirasi Palu.

Silahkan dinikmati video dokumentasi yang saya buat


#PaluBangkit
#PaluKuat
Toraja, alam dan budaya yang mempesona
Toraja, siapa sih yang tidak mengenal kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan ini? Alamnya yang indah dan asri ternyata masih menyimpan warisan tradisi budaya dari leluhurnya. Mulai dari ritual upacara kematian, situs pemakaman, dan masih banyak lainnya.Jadi masih ragu buat memasukkan Toraja di list travelling kalian tahun ini? Nah, berikut adalah 7 destinasi yang mesti kamu singgahi ketika ke toraja. Jadi, jangan bingung dulu yah


1. Londa

Londa, adalah situs pekuburan batu di Toraja. Disinilah kita bisa melihat tradisi pekuburan batu para leluhur dan keturunannya. Terdapat tulang belulang dan tengkorak yang disimpan di sebuah peti. Serta juga patung tau-tau yang disimpan di pinggir batu-batu dinding.Kalian juga bisa loh menyusuri goa di Londa, tapi kamu harus menyewa lampu yang disediakan disana kalau tidak mau gelap-gelapan. Tenang, disana ada guide lokal yang siap menemani kamu menyusuri goa ini. Di dalam goa terdapat juga tulang belulang, kuburan dengan sejarahnya masing-masing.
Foto Londa
View Londa dari gerbang masuk
Patung Tau-tau. Menandakan bahwa siapa-siapa yang dimakamkan di Londa dan juga menandakan bahwa mendiang memiliki kasta yang tinggi
Guide lokal yang ternyata pernah lama tinggal di Balikpapan. Tarif guide sukarela, sewa lampu 50rb. 
Tengkorak di goa yang terdapat di Londa

2. Kampung Lolai, Negeri di Atas Awan

Jangan lupa juga ke Kampung Lolai. Disini kamu bisa melihat hamparan persawahan hingga rumah-rumah tongkonan milik warga.Biasanya wisatawan memenuhi Lolai ini di pagi hari karna Kampung Lolai ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Dan jika beruntung kalian juga bisa menyaksikan awan yang menggumpal menutup pemandangan kota. Itulah yang membuat kampung lolai ini dikenal dengan nama Negeri di Atas Awan.

Foto Lolai
Menyaksikan sunrise di Lolai. Sayang waktu kesini tidal seberuntung dengan netizen-netizen lainnya. Biasanya pagi hari, awan menggumpal di Lolai

Ternyata di balik Lolai, menyimpan pemandangan sawah yang bikin mata meleleh
3. Nikmatin Alam yang Indah dan Masih Asri di Batutumonga
Selain Lolai ada juga Batutumonga, disini kamu juga bisa menikmati alam yang sangat indah dan bikin hati makin tenang. Sebuah desa yang berada di Toraja Utara ini juga tidak kalah dengan Lolai. Bedanya, Batutumonga tidak seramai dengan Lolai. Selama perjalanan kalian juga melewati beberapa objek wisata seperti Pana, dll.


Foto Batutumonga

Sunrise di Batutumonga
Nyaksiin view gini tiap pagi bikin pikiran plong 
Warlok (Warga Lokal)

4. Mengintip Batu Menhir di Kalimbuang Bori
Ternyata ada warisan megalitikum yang masih terjaga, yap Kalimbuang Bori. Bebatuan yang unik dan tinggi ini tersusun sangat rapi. Selain itu juga terdapat batu-batu lainnya yang berukuran besar juga sebagai tempat makam masyarakat toraja. Di Belakang kawasan objek wisata kalimbuang bori juga terdapat baby grave dan tongkonan unik.

Foto Kalimbuang Bori

Kalimbuang Bori


5. Kete Kesu
Siapa yang tidak mengenal Kete Kesu, salah satu objek wisata yang sudah gak asing lagi oleh wisatawan yang berkunjung ke Toraja. Disini terdapat rumah tongkonan yang berjejer dengan rapi. Serta kuburan yang menyimpan banyak tulang-belulang para leluhur. Disana juga tersimpan patung tau-tau. Di Kete kesu kalian juga bisa belanja oleh-oleh khas Toraja mulai dari kain ikat kepala, gelang, kalung, miniatur patung tau-tau bahkan juga mencicipi kopi Toraja.


Desa Adat Kete Kesu


6. Buntu Burake
Ini bukan di Brazil, tapi Patung Yesus ini ada di Toraja. Yap, di Toraja kamu juga bisa melihat patung tersebut tepatnya di Bukit Buntu Burake, Tana Toraja. Patung Yesus ini salah satu objek wisata yang juga jadi andalan para turis. Disini kamu bisa melihat pemandangan Makale dari ketinggian. 
Nah, kalo kamu juga berani bisa tuh nyobain berdiri di atas lantai kaca di Buntu Burake.


Foto Buntu Burake
Patung Yesus Buntu Burake
Perbukitan di Buntu Burake

7. Tilanga
Tilanga Pool, kolam yang satu ini juga bisa jadi destinasi liburan kamu di Toraja. Kalian bisa juga melihat belut purba yang berukuran besar di Tilanga Pool. Caranya kamu bisa membayar pawangnya yang merupakan anak-anak kecil disana dengan memberi tip dan membeli telur. Di belakang kolam tilanga terdapat gua yang konon memiliki cerita legenda tentang anak dan ibu yang terjatuh terkena batu. Tilanga masih digunakan sebagai tempat ritual oleh masyarakat Toraja.Gimana, sudah tahu destinasi mana yang bakal kamu tuju ketika di Toraja? Tentunya masih banyak lagi destinasi yang bisa kamu datangin ke Toraja.


Tilanga, terdapat belut purba disini. Konon masih digunakan sebagai tempat para masyarakat melakukan ritual

Nah, Bagaimana? masih ragu buat jelajahi Toraja?

Jangan lupa tetap jaga sopan santun kalian ketika mengunjungi wisata alam dan budaya yang ada di Toraja yaaa. Selamat berlibur dan selamat menikmati Toraja.

Buat persiapan sebelum ke Toraja bisa dibaca di artikel yang saya ulas sebelumnya, klik disini
Toraja, Dibalik Indahnya Alam Tersimpan Tradisi Budaya yang Masih Kental. Wajib Masuk di List Travelling Kalian.
Toraja, salah satu daerah yang punya keindahan alam yang menakjubkan. Siapa sangka dibalik keindahan alam nya, Toraja masih memiliki tradisi dan budaya yang masih kental dan banyak dibicarakan oleh berbagai orang di belahan dunia manapun.

Toraja terbagi menjadi dua yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Salah satu tradisi yang paling dicari-cari oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara adalah Rambu Solo dan Ma'Nene.

Untuk menuju ke Toraja, bisa menggunakan pesawat dengan rute menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar lalu melanjutkan perjalanan darat bus mulai dari 110rb rupiah tergantung jenis busnya. Durasi perjalanan 8-9 jam. Tenang, busnya nyaman kok tapi yah sediakan lah kantung plastik karena jalanan disana lumayan berkelok-kelok.

Namun, sebelum saya ulas tentang wisata dan tradisi di Toraja. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum ke Toraja, Sulawesi Selatan.


1. Itinerary, Hmmm perlu gak yah?

Sesungguhnya perjalanan ini udah ditata dari jauh-jauh hari. Tapi ternyata ada beberapa perjalanan di luar rencana seperti diajak buat eksplore daerah Kapitoo ini bareng dua backpacker asal Hungaria dan Argentina.
Sebenarnya itinerary perlu banget bagi para traveller buat bikin perjalanan kalian jadi lebih teratur dan disiplin. Tapi, bukan berarti itinerary mesti kalian selalu ikutin. Karena, kita gak tau selama di perjalanan ada hal apa yang bikin rencana perjalanan kita jadi berantakan atau malah jadi lebih berkesan.

Salah satu pengalaman waktu di Toraja kemarin, saya bersama teman @candrawnt udah nyiapin list perjalanan dari jau-jauh hari. Eh tau-tau harus berantakan sebelumnya karna kami berangkat dengan menggunakan kapal yang delay hingga 15 jam lamanya. Walaupun memang perjalanan kapal adalah hal biasa delaynya.

Selain itu, saya juga diajak oleh pemilik tempat penginapan kami untuk trekking kecil-kecilan di salah satu tempat yang keren dan tanpa rencana. Padahal, saya udah merencanakan destinasi yang harus dituju. Tapi, dari sebuah ajakan ringan tersebut saya malah menjadi dapat sebuah pengalaman berkesan disini.


2. Mau tidur dimana selama di Toraja?
Sesean Bed n Breakfast di Rantepao tempat saya menginap selama di Toraja
Ada banyak banget sebenarnya penginapan di Toraja. Mulai dari high cost hingga low cost dengan fasilitas masing-masingnya. Kalo saya sih lebih suka tidur di penginapan yang bisa sering ketemu sama pemiliknya dibandingkan tidur di penginapan mewah yang tidak memungkinkan terjadinya interaksi dengan warga lokal.

Atau kalau mau lebih murah lagi dan kalian tahan dengan dingin, bisa loh nyobain menginap di Lolai atau negeri di atas awan. Kamu bisa membawa tenda sendiri dengan membayar sekitar 50rban sebagai tarif kebersihan atau juga bisa menyewa tenda yang udah disiapin disana yang disewakan mulai dari 100rb s.d 300rban.

Tapi buat yang pengen di kota saja, aku sih nyaranin di Sesean Bed n Breakfast tempat penginapan saya kemarin di Jalan Sadan yang gak jauh dari pusat pertokoan Rantepao dan terminal Bolu. Kalian bisa booking di

Sesean Bed n Breakfast (Booking)
Sesean Bed n Breakfast (PegiPegi)

Selain karna penginapannya murah dan fasilitas memadai, juga pemiliknya friendly banget. Mba Ela, yang udah ngasih banyak bantuan selama di Toraja. Beliau yang juga udah ngasih tempat-tempat rekomendasi  yang mesti dikunjungin. Sampai diajak chrismast dinner yang kebetulan waktu itu memang kita datang diwaktu natal.

Jadi serasa tidur di rumah sendiri yakkk...


3. Selama di Toraja, Enaknya Pake Transportasi Apa?
Pake motor lebih seru buat ngejelajahin Toraja.
Ada banyak banget transportasi pilihan buat kalian yang ingin eksplore tempat wisata di Toraja. Tapi saya sarankan sih lebih seru pake motor. Nah, kebetulan banget tuh Mba Ela juga nyediakan penyewaan motor yang murah.

Tapi ingat, jaga selalu kendaraan yang kalian sewa. Kunci tuh yang paling penting, karna kemarin sempet ilangin kunci motor sewaan hehehe. Kronologinya berawal dari keinginan hemat bensin dari puncak tertinggi Lolai. Karna jalanan menurun, jadi matikan mesin tapi kunci tetap lengket di motor. Pas udah sampe di pertengahan jalan, baru nyadar kuncinya lepas dan jatuh gak tau kemana.

Dan untungnya, ada warga yang mau ngebantu buat sambung kontak buat nyalakan mesin motor. Dan setelah itu barulah ke duplikat kunci yang ternyata cuma ada satu-satunya di Toraja, Sulawesi Selatan.

Jangan takut tersesat, karna semur destinasi bisa di tracking dengan google maps. Atau jangan malu bertanya kepada warga.

4. Wah, Kulineran Dimana Yah Selama di Toraja?
Sebenarnya gampang banget sih nyari tempat makanan di Toraja terutama buat kalian yang mencari masakan halal. Karena penduduk disini memang mayoritas non muslim, jadi hampir seluruh sudut kota menawarkan kuliner daging babi dengan macam olahan seperti sate, bakso, dll.

Untuk masakan halal bisa kalian temui dimana-mana, mulai dari Pertokoan Rantepao, Lapangan Bakti atau dekat Terminal Bolu juga ada. Dan pastikan sebelum makan untuk bertanya yah.

Harga makanan di Toraja yah lumayan sih, mulai dari 20rb hingga 30rban sekali makan. Jadi siapin budget kalian juga buat konsumsi selama perjalanan, kalo mau low cost sering-sering puasa aja yak wkkk.


5. Pengen hangout ala Anak-anak Muda Toraja, Dimana yah?


Waduh ini mah banyak banget cafe-cafe anak muda Toraja mulai dari kana coffe, aras coffe hingga letter el coffe yang berada di daerah pertokoan Rantepao.

Tapi, dari seluruh tempat nongkrong yang udah kita sambangi, cafe favorit saya jatuh kepada Kapitoo dengan view perbukitan dan nikmatin kopi di atas awan bener-bener bikin susah buat move on dari cafe ini. Terimakasih sebelumnya buat Mba Ela, selaku pemilik penginapan Sesean Bed N Breakfast yang udah ngasih kita banyak sekali tempat-tempat rekomendasi selama di Toraja.






Gimana cuy? udah siap gak buat mengeksplore Toraja, Sulawesi Selatan? Jangan lupa buat ajak teman-teman kalian buat ngenikmatin indahnya Toraja bareng-bareng. Karna, kalo ngenikmatinnya sendiri sadis broooo...

Selanjutnya, saya bakal share tempat-tempat yang mesti kalian kunjungin selama di Toraja. Ulasan di rangkum oleh tim @ceritakan.nusantara

Team Up:
Videographer selama di Toraja: @_hellorizal
Photographer selama di Toraja: @candrawnt


Pak Alex, Pemilik UKM Rotan di KBA Makassar Rappocini.
Siapa bilang bisnis beromzet jutaan rupiah harus punya pabrik atau tempat yang luas?

Pak Alex, pria yang berusia sekitar 50 tahun ini telah membuktikan bahwa gak mesti punya tempat besar untuk menghasilkan sebuah karya yang bernilai rupiah.

Sepintas jika kita melewati sebuah lorong kecil di Rappocini, yang kini telah menjadi pilihan Kampung Berseri Astra Makassar ini terlihat sebuah rumah sederhana tapi beromzet jutaan rupiah. Terpampang tulisan UKM Rotan di atas pintu rumah pak Alex yang berada di RT.2 RW.4 Kelurahan Rappocini.

Rumah pak Alex yang digunakan sebagai tempat usaha kerajinan rotan.
Di kejauhan memang terlihat segerombolan kursi dari kayu rotan bergelantungan di loteng rumah beliau. Pak Alex memulai usaha kerajinan rotan ini mulai tahun 1985 hingga sekarang. Dari tangannya, beliau bisa menghasilkan berbagai macam produk kerajinan mulai dari kursi, tempat buah parsel, hingga tirai penutup.

Dalam sehari, beliau bisa menghasilkan puluhan produk kerajinan rotan. Beliau mengerjakan usahanya, dibantu oleh 4 karyawan yang berasal dari pihak keluarga dan bahkan ia merekrut pekerja dari luar. Karena tempat produksi kerajinan yang begitu sempit dan berada di loteng dengan akses tangga yang masih belum permanen, biasanya beliau membiarkan para pekerja melakukan tugasnya di rumah masing-masing.

Rotan yang digunakan oleh pak Alex dalam membuat kerajinan ini adalah rotan Batang dan rotan Tohiti. Biasanya beliau membeli rotan tersebut di kawasan jalan tol. Harganya pun bervariatif berdasarkan ukuran rotan.


Pak Alex sedang bekerja di loteng rumahnya yang tidak begitu luas.

Tangga kayu yang digunakan sebagai akses menuju loteng rumah.

Hasil produksi kerajinan rotan milik pak Alex di pasarkan ke toko-toko furnitur dan pasar buah yang ada di kota Makassar. Bahkan hasil produksi pak Alex juga dijual hingga ke luar pulau. Namun, tidak sedikit juga banyak para peminat yang langsung memesan ke pak Alex.

Kehadiran PT. Astra International Tbk di kampung ini ternyata telah memberikan semangat baru bagi pak Alex untuk terus maju dalam usaha yang dimilikinya. Di tahun 2016, UKM Rotan milik beliau telah diperhatikan oleh Astra. Berbagai bantuan telah ia dapatkan seperti bantuan tunai hingga renovasi tempat usahanya.

Bagi pak Alex, bantuan ini dirasa sudah sangat membantu kelancaran usaha kerajinan rotannya. Namun, kini ia masih berharap akan bantuan kembali untuk melengkapi kekurangan yang masih ada.

Semangat Pak Alex tentu adalah motivasi semangat bagi kita semua. Beliau adalah satu dari sekian banyak orang di kampung-kampung yang ada di Indonesia, yang bisa menginspirasi kita dalam maju untuk berusaha. Dari tangan kreatifnya beliau menitipkan pesan agar anak muda Indonesia bisa terus berkarya seperti dirinya.

Sukses buat pak Alex.

Salah satu produk kerajinan rotan milik pak Alex.


#KitaSATUIndonesia
#SemangatKampungIndonesia

Berikut adalah video highlight UKM Rotan Kampung Berseri Astra Makassar di Rappocini